Dongeng Bukan Hanya Media Bermain dan Belajar untuk Anak, Tapi Juga…

Psikolog Seto Mulyadi atau Kak Seto.(Foto: Istimewa)
Psikolog Seto Mulyadi atau Kak Seto.(Foto: Istimewa)

DepokToday—Pemenuhan nutrisi dan kebutuhan bermain adalah dua dari sepuluh hak anak yang perlu diperhatikan di saat pandemi COVID-19.

Membiasakan keluarga mengkonsumsi makanan bergizi memang bukan hal yang mudah. Tapi banyak cara bisa dilakukan. Salah satunya adalah melalui dongeng dan cerita-cerita yang menarik bagi anak.

Psikolog Anak, Seto Mulyadi, menjelaskan bahwa dongeng bukan hanya media bermain dan belajar untuk anak, namun juga bagi orang tua.

“Sebab, pada saat mendongeng, anak akan mengajukan pertanyaan dan orang tua harus bisa menjawab pertanyaan itu,” ungkap psikolog yang akrab disapa Kak Seto itu dalam talkshow perayaan Hari Anak Nasional 2021 yang diselenggarakan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Jumat, 30 Juli 2021.

“Mendongenglah karena dapat merangsang perkembangan anak, menjalani komunikasi antara orang tua dan anak, merangsang perkembangan bahasa, penanaman nilai-nilai baik,” tambah Kak Seto.

BACA JUGA: Wali Kota Depok Sahabat Anak

Menurut Kak Seto, mendongeng merupakan bagian dari pendidikan bersama antara anak dan orang tua, yang saling mencerahkan.

“Dalam mendongeng pun bisa masuk pesan-pesan kesehatan, misalnya penerapan protokol kesehatan saat pandemi COVID-19, hingga mengenai bahaya kental manis yang tidak cocok untuk bayi,” katanya.

BACA JUGA: KTP Anak Atau KIA, Ini Manfaat, Syarat dan Cara Membuatnya

Ilustrasi anak cerdas. (Istimewa)
Ilustrasi anak cerdas. (Istimewa)

Selain Kak Seto, hadir juga Anggota DPR Komisi IX, Arzeti Bilbina. Pada kesempatan ini, Arzeti mengingatkan agar para ibu memfasilitasi anak-anak dengan makanan yang tepat.

“Pada masa seperti saat ini, yang utama harus diperhatikan ibu adalah memfasilitasi anak-anak dengan makanan dan bagaimana agar terhindar dari makanan minuman yang tidak tepat. Seperti misalnya susu kental manis, ini bukan dikonsumsi sebagai minuman susu tapi gunakan buat topping roti dan kue-kue,” tegas Arzeti.

Untuk diketahui, Konvensi Hak-hak Anak (KHA) atau lebih dikenal sebagai UN-CRC (United Nations Convention on the Rights of the Child) yang disahkan PBB pada 1989 telah mengatur hal-hal yang berhubungan dengan hak anak.

Hak anak berarti hak asasi manusia untuk anak yang menjamin hak anak pada bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, kesehatan, dan budaya yang disahkan pada tahun 1989 oleh PBB.

Indonesia meratifikasi KHA pada 1990. 12 Tahun setelahnya, Indonesia mengadopsi konvensi ini ke dalam UU no 23/2002 tentang Perlindungan Anak yang kemudian direvisi pada tahun 2014 pada UU no.35/2014.

BACA JUGA: Sejumlah Pakar Berbagi Tips Jitu Anak Cerdas di Kala Pandemi, Simak Ini

Makanan sehat (Istimewa)
Makanan sehat (Istimewa)

Terdapat 10 hak anak menurut Konvensi Hak anak PBB Tahun 1989, dua diantaranya adalah hak untuk bermain dan hak untuk mendapatkan akses kesehatan.

Kedua aspek ini adalah hal mendasar namun seringkali tidak dapat dinikmati oleh anak-anak, terutama balita dan usia dini.

Hal ini terlihat dari profil kesehatan anak yang dirilis KemenPPA pada 2019, dimana salah satu indikator kesehatan anak dilihat dari status gizi anak.

Menurut Riskesdas 2018, sebanyak 30,8 persen anak balita mengalami stunting. Mereka terdiri dari balita yang sangat pendek dan balita pendek, masing-masing sebesar 11,5 persen dan 19,3 persen.

(tdr/*)