Direktur DEEP Indonesia Diganti, Sekarang Dipimpin Perempuan

Neni Nur Hayati.(Foto: Retro Istimewa)
Neni Nur Hayati.(Foto: Retro Istimewa)

DepokToday—Democracy and Electoral Empowerment Partnership atau disingkat DEEP Indonesia melakukan pergantian kepengurusan di pucuk pimpinan.

DEEP Indonesia yang selama ini dikomando oleh Yusfitriadi sebagai direktur, kini beralih ke sosok perempuan. Dia adalah Neni Nur Hayati.

Pergantian pengurus di level top DEEP ini dilakukan secara virtual di kawasan Bogor, Jawa Barat, pada Jumat, 5 Agustus 2021. Tak lagi menjabat direktur, Yusfitriadi kini diplot sebagai dewan pembina DEEP Indonesia.

Direktur DEEP Indonesia sebelumnya, Yusfitriadi.(Istimewa)
Direktur DEEP Indonesia sebelumnya, Yusfitriadi.(Istimewa)

Sekarang, di bawah kepemimpinan Neni Nur Hayati sebagai Direktur DEEP Indonesia, ia berkomitmen menjaga produktivitas yang telah berjalan serta melakukan inovasi dan kreatifitas.

Hal tersebut, kata Neni, guna mampu menjawab tantangan demokrasi yang akan datang. Disamping itu, Neni juga akan memperkuat sinergitas dan kolaborasi dengan stakeholder terkait termasuk juga jaringan masyarakat sipil lainnya.

“Ini dilakukan untuk dapat menjaga pemilihan yang berkualitas dan berintegritas dalam upaya menjaga khittah demokrasi,” katanya melalui keterangan tertulis, Selasa 10 Agustus 2021.

BACA JUGA: Kantor Barunya Diresmikan IBH, DEEP Depok Beberkan 4 Agenda Strategis

Dalam waktu terdekat, perempuan yang kerapkali disapa Neni akan “ngabret” melaksanakan dan melaunching beberapa program baru menjelang persiapan Pemilu Serentak 2024.

Tidak hanya itu, Neni memiliki komitmen kuat untuk menjaga DEEP sebagai organisasi masyarakat sipil yang transparan, akuntabel dan independen serta senantiasa membangun gagasan konstruktif dan kritis atas respon terhadap isu-isu krusial yang terjadi.

Dalam menjalankan roda organisasi, Neni tidak sendiri, tetapi juga didukung oleh struktur dan personalia di DEEP yang masuk dalam generasi milenial.

Oleh karenanya, dengan kekuatan yang dimiliki, Neni optimistia bisa membawa lembaga DEEP untuk bisa lebih progressif lagi.

Tentang DEEP

Sekadar informasi, perombakan kepengurusan ini dilakukan sebagai wujud implementasi nilai-nilai demokrasi di internal lembaga yang fokus terhadap isu demokrasi, pemilu, kebijakan publik serta menyangkut keberpihakan perempuan dan anak.

DEEP Indonesia resmi berdiri pada 8 Agustus 2018, yang lahir untuk menjawab kesenjangan antara harapan demokrasi dengan realitas demokrasi yang terjadi di Indonesia.

Karena sudah saatnya berbagai isu demokrasi menjadi milik publik, bukan hanya milik segelintir elit politik.

Terlebih pada era transformasi teknologi yang demikian massif, berbagai macam hal informasi termasuk informasi politik dan demokrasi akan mudah dan cepat dikonsumsi oleh publik.

BACA JUGA: Manifesto Idris-Imam: Dinasti Politik, Sampah, Hingga Pungli

Saat ini, telah terbentuk relawan DEEP di 27 Kabupaten/Kota Se-Jawa Barat yang ikut serta terlibat dalam mengawal proses demokrasi prosedural pada Pemilu Serentak 2019, serta Pemilihan Serentak Lanjutan 2020 di Jawa Barat.

Pengawalan yang dilakukan oleh DEEP tidak hanya pada hajatan lima tahunan belaka, tetapi juga pasca elektoral itu digelar, untuk menuju demokrasi substansial.

DEEP telah menyelenggarakan Kursi (Kursus Kepemiluan dan Demokrasi) di 27 Kabupaten/Kota dengan alumni sekitar 15.000 orang. Karena masih ada keterbatasan sumber daya, maka hanya bisa melakukan pemantauan di Provinsi Jawa Barat saja.

Rencananya, tahun 2022 akan membuka relawan DEEP di provinsi dan Kabupaten/Kota diluar Jawa Barat. Beberepa hasil riset dan kajian yang telah dilakukan di antaranya mengenai pelaksanaan Pemilu 2019, kajian managemen logistik, partisipasi pemilih milenial, dana kampanye pemilu 2019, advokasi terhadap kasus kekerasan kepada perempuan dan anak dan lain-lain.

Peluang dan tantangan demokrasi yang akan dihadapi semakin berat, apalagi menjelang Pemilu Serentak 2024.

(tdr/*)