Dewan Guru Besar UI Terbitkan Buku Meretas Batas Ilmu Perjalanan Intelektual

BEJI-Dewan Guru Besar Universitas Indonesia periode 2015–2020 menerbitkan sebuah manuskrip perjalanan keilmuan (intellectual trajectory).

Penulis dan penyunting buku tersebut, Yunita Triwardani, kepada wartawan pada Selasa(10/12/2019) mengatakan hal tersebut dalam acara peluncuran dan Bedah Buku Karya Guru Besar Sosial Humaniora Universitas Indonesia.

Menurut dia, para guru besar yang telah mencapai jenjang tertinggi dalam karier akademisnya telah mengalami perjalanan panjang, dalam upaya mengembangkan profesionalitas keilmuan dan menghasilkan karya ilmiah yang mumpuni.

Hasil perjuangan dan karya akademis itulah, kata Yunita, yang kemudian menentukan ke mana pengembangan keilmuan suatu perguruan tinggi diarahkan.

Dikatakannya pula, menghimpun kisah perjuangan setiap guru besar itu dalam suatu publikasi ilmiah, merupakan suatu upaya luhur untuk dapat menyajikan kepada komunitas akademis dan masyarakat luas.

“Sejalan dengan tujuan itu, kami Dewan Guru Besar Universitas Indonesia periode 2015–2020 menerbitkan sebuah manuskrip perjalanan keilmuan (intellectual trajectory) yang berisi berbagai kisah perjuangan para guru besar Universitas Indonesia serta karya ilmiah yang mereka hasilkan, khususnya dalam ranah ilmu sosial-humaniora,” katanya.

Dalam kisah itu, setiap guru besar ilmu sosial humaniora menceritakan perjalanan keilmuannya selama yang bersangkutan melaksanakan kegiatan akademisnya di Universitas Indonesia.

“Para penulis itu adalah Agus Sardjono dan Sulistyowati Irianto dari Fakultas Hukum, Prijono Tjiptoherijanto dan Sri Moertiningsih Setyo Adieoetomo dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, I Ketut Surajaya dan Melani Budianta dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Muhammad Mustofa, Yasmine Zaki Shahab, dan kami Yunita T. Winarto dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Haula Rosdiana dari Fakultas Ilmu Administras,” bebernya.

Buku berjudul Meretas Batas Ilmu Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora merupakan himpunan dari kisah sepuluh Guru Besar bidang Ilmu Sosial-Humaniora Universitas Indonesia dalam mengawali, menumbuhkembangkan, menggumuli, dan menghasilkan karya ilmiahnya.

“Rentang perjalanan yang panjang dari setiap Guru Besar itu tidaklah linear, mulus, dan sederhana,” jelasnya.

“Tidak pula seluruhnya berawal dari rintisan karier yang sejalan dengan minat dan pilihan nuraninya,” sambung Yunita.

Namun, lanjut dia, sekalipun para Guru Besar itu merintis karier dalam disiplin ilmu dengan landasan teoretis, konseptual, dan metodologis yang ditumbuhkembangkan oleh ilmuwan mancanegara, mereka ternyata mampu memadukan pengetahuan itu dengan fenomena empiris sosial-budaya yang terwujud di bumi Indonesia.(aji)