Depok Bisa Menjadi Pusat Ekonomi Kreatif Nasional

Rama Pratama

MARGONDA– Pergeseran generasi, perkembangan teknologi, dan dinamika ekonomi baik di tingkat nasional maupun global telah mengubah wajah perekonomian saat ini.

Jika dulu ekonomi digerakkan oleh perusahaan dari bisnis-bisnis seperti minyak, tambang dan manufaktur, kini aktivitas ekonomi menyebar ke jaringan pelaku-pelaku usaha berukuran menengah yang berbasis teknologi ekonomi kreatif. Kondisi ini pun telah bergeliat di tingkat kota hingga ke pelosok daerah.

Menanggapi hal itu, bakal calon Wali Kota Depok, Rama Pratama menilai, pembangunan ekonomi Kota Depok ke depan adalah ekonomi berbasis pengetahuan, termasuk di dalamnya ekonomi kreatif berbasis digital.

Salah satu alasannya, Depok tidak punya sumber daya alam. Depok juga sudah tidak memiliki wilayah yang memadai untuk membangun industri manufaktur, berupa pabrik-pabrik atau kawasan industri berskala raksasa.

“Makanya, ekonomi Depok harus bertumpu pada manusianya. Depok bisa menjadi pusat ekonomi kreatif, atau creative hub, hingga tingkat nasional,” katanya seperti dilansir pada Senin 3 Februari 2020

Rama menyebut, jika mampu menjadi creative hub, Depok akan terhubung dengan industri-industri berbasis kreativitas, seperti perfilman, multimedia, clothing, fashion, dan lain lain. “Syaratnya, pemerintah kotanya mesti menciptakan ekosistem yang mendukung.”

Selain berpendapat, Rama juga menunjukan langkah kongkritnya menghadapi era digital itu dengan menghadiri pelatihan bertajuk Powerful Creative Content yang digelar di Prasmanan Om Temi, Depok.

Pelatihan yang diselenggarakan secara gratis ini dihadiri oleh puluhan peserta dari kalangan milenial Kota Depok. Pelatihan ini diisi oleh Budi Satria Wibawa. Warga Depok yang akrab disapa dengan panggilan Om Temi itu juga pemilik restoran tempat pelatihan ini diselenggarakan.

Pelatihan bertajuk Powerful Creative Content yang digelar di Prasmanan Om Temi, Depok (istimewa)

Berbekal pengalaman puluhan tahun sebagai Content Director di industri televisi nasional, Om Temi pun berbagi tips kepada peserta bagaimana membuat konten sosial media yang asik dan keren hingga berpeluang memiliki prospek bisnis melalui konten digital tersebut.

“Harapannya kalau dulu orang cari desainer atau animator ke Bandung, atau cari editor film atau music director ke Yogya, besok-besok cukup cari di Depok,” ujar Rama

Dengan tidak adanya ruang untuk penanaman modal raksasa, Depok harus membangun diri menjadi pusat ekonomi berbasis wirausaha. Pemerintah kota mestinya mampu mengembangkan usaha-usaha menengah yang terus ditumbuhkan, hingga tingkat nasional, bahkan bisa ekspor ke mancanegara.

Syarat agar ekonomi kreatif dan UKM tumbuh dan berkembang adalah dukungan pemerintah, karena modal mereka terbatas. Pemerintah harus menunjukkan keberpihakan melalui kebijakan, penyediaan modal, dan membuka akses pasar.

“Yang kita lihat sekarang di Depok, pemerintah lebih berpihak ke pengusaha besar, seperti pengusaha properti. Tidak ada terobosan untuk memajukan ekonomi kreatif dan UKM,” ucap Rama

Lebih lanjut mantan anggota DPR RI ini mengatakan, agar ekonomi kreatif dan UKM maju, Depok membutuhkan banyak pusat inkubasi digital berupa co-working space yang di dalamnya diisi pendampingan, pelatihan, business pitching, dan investor meeting. Menurutnya, co-working space semacam itu harus didukung penuh oleh pemerintah kota.

“Saya yakin kalangan bisnis, BUMN, kampus, dan media mau membantu, asal mereka percaya dan tergantung komunikasi pemerintah kota dengan mereka. Tidak mungkin hanya mengandalkan APBD. Di situ lah pemerintah kota dituntut harus kreatif dan inovatif. Itu yang tidak kita lihat sekarang,” jelasnya

Rama menambahkan, pemerintah kota mestinya juga berkomunikasi dengan kalangan perbankan dan bekerja sama dengan mereka untuk membantu menciptakan skema kredit yang lebih ramah bagi UKM dan penggerak ekonomi kreatif, selain Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang selama ini sudah berjalan.

Rama Pratama adalah salah seorang tokoh gerakan mahasiswa pada era Reformasi 1998. Pada masa itu, ia adalah Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia, Depok. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi UI, ia melanjutkan pendidikannya di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan kini tengah merampungkan studi doktoralnya, juga di almamaternya itu.

Pada 15 Januari lalu, Rama menyampaikan tekadnya mengajukan diri untuk menjadi calon Wali Kota Depok. Walau saat ini belum diusung oleh partai politik, pria yang telah menjadi warga Depok selama lebih dari 30 tahun ini optimis akan mendapat dukungan dari partai politik pada waktunya nanti.

“Dalam jangka panjang, jika roda ekonomi kreatif dan kewirausahaan Depok bisa bergerak lebih dinamis, angka commuter ke Jakarta bisa menurun, karena orang Depok cukup bekerja di Depok. Kemacetan dan masalah transportasi juga bisa berkurang.” (rul/*)