Depok Berada di Posisi Empat Kasus Kekerasan Terhadap Anak

Pengmas FHUI di Depok (istimewa)

DEPOK- Sejumlah akademisi Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) yang diketuai oleh Wahyu Andrianto menggelar program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) yang diperuntukkan bagi siswa-siswi Sekolah Masjid Terminal (Master) dengan mengusung tema Aksi Peduli Anak Bangsa.

Berlokasi di Sekolah Master, Jalan Margonda, Depok, kegiatan ini terselenggara selama dua hari, yakini Jumat 26 Oktober 2019 hingga Sabtu 27 Oktober 2019. Wahyu berharap, kegiatan itu dapat menjawab permasalahan kenakalan remaja, khususnya pada anak jalanan atau anjal.

Kegiatan ini turut dihadiri tokoh publik yang merupakan Psikolog Anak Seto Mulyadi atau kerap dipanggil Kak Seto. Dalam program itu, Kak Seto memberikan penyuluhan perlindungan hukum anti kekerasan seksual bagi kelompok rentan anak.

Selain itu hadir pula para pembicara lainnya yaitu Budi Wahyuni dari Komisioner Komnas Perempuan, Dokter dan Ketua Komite Etik RS Amelia, Martira, dan Anggota dan Agen Penyuluh BNN Depok, Ketut Ria Kusumawati.

Sejumlah pakar ini diharapkan dapat memberikan pemahaman, wawasan serta meningkatkan kewaspadaan bagi para murid, wali murid, tenaga pengajar, dan LBH Master.

Topik utama yang diusung antara lain, bahaya pengedaran dan penyalahgunaan narkotika, bahaya kekerasan seksual terhadap anak, dan resiko bahaya penularan HIV/AIDS. Pelaksanaan aksi UI untuk negeri dilatarbelakangi atas data survei sementara, di Kota Depok dimana telah terjadi peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS dan jumlah kasus penyalahgunaan dan pengedaran narkotika.

Depok juga menempati urutan ke-empat di Jabodetabek terkait angka kekerasan seksual terhadap anak. Anak terlantar dan kurang mampu menjadi salah satu kelompok rentan terhadap masalah-masalah tersebut, karena mereka dinilai cenderung mudah dipengaruhi atau karena faktor lingkungan dan pola sosialisasi sosial dari orang dewasa di sekitarnya untuk menerima perlakuan kekerasan seksual ataupun terpapar dengan budaya penyalahgunaan narkoba dan seks bebas.

Disamping itu, kondisi sosial keluarga yang rusak juga menjadi titik masalah tersendiri.

“Diharapkan upaya tim Pengmas FHUI dapat mengatasi permasalahan kenakalan remaja serta meningkatkan kesadaran hukum agar terbentuk community resilience yaitu perlindungan diri dari penyalahgunaan, pengedaran narkotika, perilaku kekerasan seksual anak, dan penyebaran HIV/AIDS,” kata Wahyu dalam siaran pers yang diterima DepokToday. (*red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here