Denjaka, Hantu Laut TNI Penyelamat Rombongan Mantan Presiden Portugal

Denjaka (Foto: Istimewa)
Denjaka (Foto: Istimewa)

DepokToday- Sudah bukan rahasia lagi jika Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki sejumlah pasukan elit yang kemampuannya di atas rata-rata tentara pada umumnya. Salah satunya adalah Detasemen Jalamangkara atau yang biasa disebut Denjaka.

Pasukan elit dari TNI AL itu adalah detasemen penanggulangan teror aspek laut. Disitat dari inews.id, Denjaka adalah satuan gabungan antara personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalion Intai Amfibi (Taifib) Korps Marinir TNI-AL.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, 1 anggota Denjaka setara dengan 120 prajurit biasa.

Untuk menjadi anggota Denjaka tentu tidaklah mudah. Bahkan dikabarkan tak banyak prajurit TNI AL yang lolos dalam seleksi detasemen tersebut.

Jika dinyatakan lolos, calon anggota bakal dididik di Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. Mereka harus menyelesaikan pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut) selama enam bulan.

Baca Juga: Pantes Dijuluki Malaikat Pencabut Nyawa, Ternyata Ini Ciri Pasukan Yon Taifib

Dikabarkan, tak banyak prajurit TNI yang bisa lolos dalam pendidikan untuk menjadi anggota pasukan elit tersebut.

Dari ratusan prajurit yang ikut pendidikan, hanya sekira 50 yang bisa terpilih menjadi anggota Denjaka. Sebabnya, anggota yang tergabung dalam detasemen ini wajib memiliki IQ tinggi dan harus kuat menjalani latihan keras dan mengancam nyawa.

Misi Berbahaya Denjaka

Detasemen dengan moto Satya Wira Dharma yang dijuluki Hantu Laut ini dikhususkan untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana saja, terutama anti teror aspek laut.

Disitat dari CNBCIndonesia, satuan prajurit pasukan khusus di AL itu punya segudang prestasi yang bikin dunia internasional berdecak kagum.

Di antaranya, mereka telah sukses dalam menghalau sejumlah aksi teror seperti pada operasi Aru Jaya tahun 1992. Marinir berhasil mengusir Kapal Lusitania Expresso, kapal feri berbendera Portugis tengah berlayar menuju Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste).

Pasukan elit TNI AL (Foto: Istimewa)
Pasukan elit TNI AL (Foto: Istimewa)

Kapal milik perusahaan AA Rocha Cabecas ini disewa kelompok aktivis antiintergrasi Timor Timur terhadap Indonesia, 23 Januari 1992.

Kapal berbobot 1.662 ton melaju dengan kecepatan 15 knot membawa 73 aktifis NGO dari 18 negara, termasuk mantan Presiden Portugal, Antonio Ramlho Eanes, serta 56 wartawan dari enam negara.

Pelayaran itu memiliki misi provokasi internasional menyusul insiden Santa Cruz. Suksesnya pasukan khusus TNI AL membuat bajak laut alias perompak Somalia kocar-kacir ketika diserang oleh gabungan satuan elit Kopassus, Kopaska, dan Denjaka.

Kala itu, pasukan elit TNI kebanggaan Indonesia ini berhasil membebaskan WNI yang disandera bajak laut Somalia.

Pasukan elite TNI tersebut juga memburu perompak Somalia setelah kapal MV Sinar Kudus yang dioperasikan PT Samudera Indonesia dibajak di perairan Laut Arab pada 16 Maret 2011 silam. (rul/*)