Demam Balap Lari Liar, Polisi Jaga Perbatasan Depok-Bogor

Kapolres Metro Depok, Komisaris Besar Polisi Azis Andriansyah meresmikan Pos Polisi di Perbatasan Depok-Bogor (Istimewa)

BOJONGGEDE– Kapolres Metro Depok, Komisaris Besar Azis Andriansyah menegaskan, pihaknya tidak segan-segan menjerat para pelaku balap lari liar ke ranah pidana. Sebabnya, aksi yang telah membuat resah masyarakat itu belakangan ini menjadi trend dikalangan anak muda.

Azis mengungkapkan, pihaknya saat ini sedang mempelajari kasus tersebut. Namun karena dasar hukumnya sementara ini berkaitan dengan COVID-19, maka masih menggunakan peraturan wali kota atau Perwal yang nantinya akan dimatangkan melalui peraturan daerah (Perda)

“Berikutnya kalau berulang-ulang kita akan kaji, jika bisa dikenakan pidana kita akan kenakan pidana. Intinya bukan untuk menghukum masyarakat, tetapi memberikan kesadaran masyarakat,” katanya Rabu 16 September 2020

Azis mengungkapkan, wacana perubahan dari Perwal ke Perda bisa saja dilakukan karena niatnya adalah untuk menjaga kesehatan masyarakat.

“Paling utama niatnya bukan untuk menghukum atau mempidanakan masyarakat, tapi memberikan kesadaran,” jelas dia di dampingi Dandim 0508/Depok, Kolonel Inf Agus Israk Miraj

Di Depok, lanjut Azis, telah ditemukan dua kasus terkait dengan balap lari liar. Selain rawan terjadinya tindak pidana seperti perjudian dan perkelahian, aksi ini juga rentan menimbulkan penyebaran COVID-19.

Untuk mencegah terulangnya kasus serupa, aparat setempat kemudian mendirikan Pos Polisi di perbatasan Depok-Bogor, tepatnya di wilayah Jalan Bambu Kuning, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Pos Polisi ini bagian dari upaya preventif untuk menekan pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat.

“Di Depok memang baru dua kali ditemukan, tetapi fenomena ini tidak boleh karena saat ini sedang pandemi, dan mereka berkerumun seakan-akan tidak ada sesuatu, ini rawan terjadinya penyebaran COVID-19,” jelas Azis

Selain itu, kata Azis, langkah lainnya yang saat ini kian gencar dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan, adalah dengan membentuk satuan tugas (Satgas) penegak disiplin di sejumlah klaster.

“Kita hari ini juga telah meresmikan satu Pos-Polisi dan membentuk 13 satgas penegak disiplin di 13 klaster. Nah ini kita ketahui ada beberapa permasalahan kenapa kita sampai mendirikan pos pol dan kenapa kita membentuk satgas penegak disiplin,” ujarnya

Azis menyebut, satgas klaster menjadi bagian terpenting dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

“Ada beberapa klaster yang tidak bisa disentuh oleh aparat makanya kita membentuk satgas penegak disiplin di kelas-kelas tertentu, diantaranya pasar, tempat ibadah, stasiun, lingkungan RW sampai di tingkat keluarga.” (rul/*)