Dampak Pandemi Bikin PKL Menjerit, Kebijakan Ini yang Diharapkan Melonggar

Hermansyah Presiden PPKLI usai diwawancara soal keadaan PKL saat ini (Istimewa)
Hermansyah Presiden PPKLI usai diwawancara soal keadaan PKL saat ini (Istimewa)

DepokToday – Merasakan dampak yang besar dari pandemi yang melanda Indonesia saat ini, Pedagang Kaki Lima atau PKL meminta sedikit perhatian dari pemerintah lewat kelonggaran regulasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Presiden Persatuan Pedagang Kaki Lima Indonesia (PPKLI), Hermansyah mengatakan, banyak pedagang yang gulung tikar karena diterpa pandemi. Kondisi ini terutama melibas mereka yang menggantungkan usahanya di pinggir jalan atau pedagang kaki lima.

“Itu kan aturan pemerintah , dan yang dibuat pemerintah itu kan jelas kebaikan bagi masyarakat. Hanya kita berharap kepada pemerintah untuk kedepan ini bagaimana membuat aturan itu jangan terlalu merugikan pedagang,” papar dia dikutip Senin 9 Agustus.

Baca Juga: Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Grill Margonda, Modusnya Naik Angkot

Aturan yang paling banyak dikeluhkan PKL hingga membuat dampak serius bagi usahanya di tengah pandemi, yaitu soal waktu durasi yang dinilai mereka tidak cukup untuk menggaet pembeli. Hal ini sangat dirasakan khususnya mereka yang merupakan pedagang makanan yang membuka usahanya pada sore hari hingga malam hari.

Baca Juga: Heboh Kasus Dinar Candy: Masalah Akhlak, Moral atau Kejahatan?

“Harapan kita kalaupun diperpanjang (PPKM), berandai-andai kalau diperpanjang berilah satu kelonggaran yang tadinya jam delapan jadinya jam sepuluh (tutup) dengan prokes ketat. Kalau meja empat dikasih dua, sebab masyarakat ini kalau saya lihat terlalu parah dampaknya,” jelas dia.

Sebagai contoh, pedagang kaki lima di sekitaran dia tinggal saja, yaitu di Jalan Raya Bogor, sudah banyak yang terpaksa gulung tikar karena pademi. Mereka rata-rata datang dari sektor makanan dan bengkel. Tentunya persoalan utamanya karena tidak adanya pembeli di tengah aturan PPKM.

“Ada bermacam-macam yang bisa merasakan, seperti pedagang makanan kaki lima atau bengkel misalanya,” jelas dia. (lala/*)