COVID Bikin Kejahatan Dunia Maya Tinggi, Dosen UI Beberkan Ini

Dosen UI beberkan kejahatan dunia maya saat pandemi (Istimewa)
Dosen UI beberkan kejahatan dunia maya saat pandemi (Istimewa)

DepokToday- Sejak pandemi melanda Indonesia, kejahatan dunia maya atau cyber drime menjadi salah satu tindak pidana yang mengalami peningkatan cukup tinggi.

Modus operandinya pun beragam. Dari mulai berkedok sumbangan, pencurian data hingga pembobolan rekening.

“Cyber crime menjadi salah satu jenis kejahatan yang mengalami peningkatan cukup tinggi, modusnya juga kian beragam. Hal ini yang harus diwaspadai secara bersama mengingat tindak kejahatan ini semakin masif dilakukan,” kata Dosen Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosisal dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP UI) Bhakti Eko Nugroho dikutip pada Jumat 30 Juli 2021.

Ia menjelaskan, cyber crime adalah segala aktivitas ilegal yang digunakan oleh pelaku kejahatan dengan menggunakan teknologi sistem informasi jaringan computer, yang secara langsung menyerang teknologi sistem informasi dari korban.

Namun secara lebih luas kejahatan siber bisa juga diartikan sebagai segala tindak ilegal yang didukung dengan teknologi komputer.

“Target pelaku adalah device atau hardware atau software atau juga data personal dari korban,” katanya.

Karakter Pelaku Cyber Crime

Menurut Bhakti Eko, sifat dari cyber crime ini adalah baik pelaku maupun korbannya sama-sama invisible atau tidak terlihat. Hal ini yang membuat jenis kejahatan itu punya kompleksitas sendiri.

“Pelaku potensial dari jenis cyber crime ini, dia bisa dari kelompok yang geologis ataupun kelompok yang berbisnis secara ilegal dan individu tertentu,” tuturnya.

Baca Juga: Apa Kabar Perkara Raffi Ahmad di Pengadilan Negeri Depok, Ini Hasilnya

Lebih lanjut Dosen UI itu mengungkapkan, bahwa keuntungan pelaku di aktivitas cyber crime adalah anonimitas pelaku dengan lebih mudah menyembunyikan identitas mereka.

Kemudian, ketika pelaku melaksanakan kejahatan di ruang siber ada jeda waktu yang memungkinkan pelaku lebih leluasa untuk menghilangkan barang bukti agar mengecoh dan mencegah respon dari upaya-upaya yang dilakukan oleh penegak hukum.

Disisi lain, pengguna internet baik di dunia maupun di Indonesia setiap tahunnya semakin meningkat.

Pandemi COVID-19 pun berdampak pada perubahan pola hidup masyarakat Indonesia yang cenderung lebih banyak mengandalkan internet.

“Tentunya ada sisi positif dari penggunaan internet yang tinggi, namun dari sisi negatifnya internet atau teknologi informasi ini menjadi tools baru yang digunakan oleh pelaku kejahatan untuk merugikan orang lain.”

Dosen UI Beberkan Angka Kejahatan Dunia Maya

Menurut data dari Polri, pada periode April 2020 sampai Juli 2021, setidaknya ada 937 kasus yang dilaporkan.

Dari 937 kasus tersebut ada tiga kasus dengan angka tertinggi, yaitu kasus provocative, hate content dan hate speech yang paling banyak dilaporkan, sekitar 473 kasus.

Peluncuran buku putih TP3 mendadak gaduh usai disabotase video bokep. Foto: Ilustrasi hacker. (Pixabay)
Peluncuran buku putih TP3 mendadak gaduh usai disabotase video bokep. Foto: Ilustrasi hacker. (Pixabay)

Kemudian disusul oleh penipuan online dengan 259 kasus dan konten porno dengan 82 kasus.

“Lalu mengapa angka kasus provocative, hate content, dan hate speech ini menjadi yang tertinggi, hal ini dipengaruhi oleh residu politik di Indonesia yang terjadi beberapa waktu lalu baik pemilihan daerah maupun pemilu nasional yang mengakibatkan polarisasi pada masyarakat,” kata Bhakti Eko.

“Hal tersebut terbawa hingga saat ini di mana saat pandemi terjadi seharusnya masyarakat Indonesia bersatu untuk melawan wabah ini tetapi malah saling bertengkar dan menyalahkan satu sama lain,” sambungnya.

Ia mengingatkan, bahwa ada kejahatan baru selama pandemi ini terjadi.

Waspada Kejahatan Modus Ini

Menurut pengamanatan Dosen FISIP UI, Bhakti Eko, selama pandemi ada oknum yang menaikkan harga barang dan alat kesehatan yang dibutuhkan masyarakat di atas normal, bahkan menimbun barang, sehingga barang tersebut langka di masyarakat.

Selain itu, pihak kepolisian juga sudah mengamankan pelaku yang menyebarkan informasi hoaks tentang pandemi COVID-19. (rul/*)