Cikal Bakal Debus di Tanah Banten, Begini Cara Menguasainya

Ilustrasi atraksi debus dari Banten (Istimewa)
Ilustrasi atraksi debus dari Banten (Istimewa)

DepokToday- Debus adalah salah satu warisan budaya asli Indonesia. Menurut cerita, ilmu sakti yang bertolak belakang dengan hukum alam itu disebarkan oleh seorang ulama Banten.

Dilansir dari goodnewsfromindonesia, ketika masa kolonial, ada seorang ulama yang begitu disegani oleh masyarakat.

Ia adalah Syekh Yusuf Al-Makassari, seorang guru tarekat yang memimpin jihad di Banten melawan serdadu Belanda selama dua tahun, (1682–1684).

“Dia merupakan contoh seorang sufi yang saleh sekaligus pejuang fisik yang hebat,” kata Van Bruinessen, ahli studi tentang Islam dari Utrecht University, Belanda, dikutip DepokToday.com dari Historia pada Minggu, 22 Agustus 2021.

Peran Syekh Yusuf menonjol ketika Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683) melawan Belanda. Setelah Sang Sultan ditangkap Belanda, dia memimpin pasukan bergerilya di wilayah Banten dan Jawa Barat. Menurut kabar yang beredar, pasukannya sulit ditundukan Belanda.

Kisah Syekh Yusuf pun berkembang di masyarakat. Dia dipercaya kebal senjata dan tak bisa dilihat musuh. Kendati pada akhirnya dia ditangkap Belanda lewat tipu muslihat.

Jejak Debus di Tanah Banten

Menurut beberapa sumber, Sultan Ageng Tirtayasa dan Syekh Yusuf mengajarkan ilmu kebal pada prajuritnya untuk mendongkrak semangat melawan penjajah.

Ketika ketegangan antara Kesultanan Banten dan Belanda meningkat, para pejabat kesultanan berdakwah dan mengajarkan kekebalan di pedalaman Banten.

Menurut jurnal Budaya Islam dan Budaya di Banten: ‘Menelisik Tradisi Debus dan Maulid’ yang ditulis oleh Hasani Ahmad Said, kata debus berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘Senjata Tajam’ yang terbuat dari besi dan memiliki ujung yang runcing dan sedikit bundar.

Baca Juga: Jurus Silat Jalan Enam, Beladiri Mematikan dari Sawangan Depok

Debus mulai populer di Banten sejak abad ke-16 sebagai media pengenalan Islam di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Saat itu masyarakat setempat masih memercayai kebiasaan nenek moyang sebagai agama mereka.

Kala itu, Nurrudin Ar-Raniry dari tarikat Rifaiah seorang tokoh yang memperkenalkan tradisi tersebut berupaya mengenalkan Islam melalui atraksi melukai diri, sambil membaca doa-doa dari Al Qur’an sebagai upaya memohon keselamatan.

“Praktik magis dalam permainan debus merupakan campuran eklektik dari agama Islam, khususnya dari tradisi tarekat, dan dari tradisi yang telah berkembang di masyarakat pra-Islam di Banten,” kata Syarifaeni Fahdiah, Ketua Umum Forum Silaturahmi Alumni Madrasah Masyariqul Anwar (FORSAMMA), dalam Republika.

“Kekebalan dan kesaktian sejak masa pra-Islam memang dipentingkan dan dicari orang banyak di Nusantara,” timpalnya lagi.

Menurut Rohman, peneliti Bantenologi dan pengajar di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten, keinginan menguasai ilmu kebal telah turun temurun dari generasi ke generasi di Nusantara.

Sebelum Islam masuk, orang-orang menggunakan mantra dari tradisi Hindu dan Buddha untuk melindungi diri dari bahaya. Ketika Islam datang, hal itu diwakili oleh tarekat.

“Meskipun tujuan tarekat adalah untuk mendekatkan para pelakon kepada Tuhan, banyak muslim lokal selama fase pertama penyebaran Islam bergabung dengan tarekat karena ritualnya mirip dengan praktik pra-Islam,” tulis Rohman dalam “The Result of a Holy Alliance: Debus and Tariqah in Banten Province”, Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Afkaruna Vol. 9 No. 1 Januari–Juni 2013.

Zikir dan Wirid Dianggap Seperti Mantra

Ajaran meditasi dan asketisme yang dipraktikkan oleh guru tarekat dibandingkan dengan ritual tapa (meditasi) pada masa pra-Islam. Keahlian debus berdasarkan ajaran tarekat pun mempercepat penyebaran Islam, terutama yang terjadi di Kesultanan Banten.

“Banyak orang yang masuk tarekat bukan karena untuk meningkatkan kesadaran spiritual mereka dengan mensucikan jiwanya, tetapi mereka mengharapkan mendapat “ilmu” yang kuat, yakni kesaktian dan kedigdayaan,” kata Syarifaeni.

Praktik ilmu kekebalan tak hanya dilakukan oleh tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, tetapi juga oleh tarekat Sammaniyah, Rifa’iyah, dan Shadziliyah.

Menurut Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat, mencatat bahwa tarekat Rifa’iyah yang paling berpengaruh dalam debus. Jejaknya jelas ada di Banten.

Tarekat Rifai’yah menyebar dari lingkungan istana dan elite kepada penduduk pada masa Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyuddin (1773–1799).

Menurut Van Bruinessen, Sang Raja mengajarkan tentaranya berbagai doa dan teknik yang dengan berkah Syekh Ahmad Rifa’i dan wali lainnya akan membuat mereka kebal terhadap besi, api, dan racun.

Di Banten, pada awalnya kesenian ini berfungsi untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, pada masa penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, seni ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten untuk melawan Belanda.

Fase berikutnya, debus sempat menghilang seiring dengan melemahnya Kasultanan Banten di bawah kekuasaan Sultan Rafiudin. Kesenian debus muncul lagi pada tahun dekade 1960-an.

Cara Menguasai Debus

Sebelum melakukan atraksi debus, biasanya para pemain harus mensucikan diri dengan tidak melakukan hal-hal yang dilarang di dalam Agama Islam.

Satu minggu sebelum melaksanakan atraksi, para pemain tidak diperbolehkan meminum minuman beralkohol, dilarang berjudi, tidak boleh mencuri, hingga dilarang tidur dengan istri maupun perempuan lain.

Memang, untuk menguasai debus para penganut tarekat harus puasa, membaca doa-doa tertentu, zikir, wirid, serta salawat kepada Nabi Muhammad SAW dan para aulia, yakni guru tarekat dan guru debus.

Dalam tradisi tarekat, permainan debus berfungsi untuk menguji tingkat kefanaan seseorang ketika melakukan wirid dan zikir. Jika telah sampai pada tingkatan fana, dia akan mampu melakukan sesuatu yang keluar dari hukum alam.

“Ini berkorelasi dengan makna fana yang artinya suatu pengalaman rohani yang merasakan peleburan dalam Zat Yang Maha Tinggi,” tulis Hudaeri dalam “Debus di Banten; Pertautan Tarekat dengan Budaya Lokal”, Al Qalam Vol. 27 No. 1 (Januari–April 2010).

Baca Juga: Kisah Noni Belanda, Penghuni Gaib di Rumah Tua Cimanggis

Untuk belajar debus tentu bukanlah hal mudah, karena membutuhkan proses yang panjang. Orang yang ingin belajar debus ataupun kebal harus memiliki sikap sabar, dan yang tak kalah penting adalah menjaga kesucian hati.

Abah Sakud pendiri Padepokan Bedah Suci menyatakan ilmu yang didapatnya dilaluinya secara bertahap, karena banyak sekali pantangan yang tak boleh dilanggar. Untuk bisa tampil dalam pertunjukan debus, menghibur masyarakat, setidaknya dibutuhkan waktu mencapai dua hingga tiga tahun

“Ada yang memang lewat puasa seminggu dalam sebulan. Tapi waktu tiga minggu ini belum cukup untuk mempelajari semua ilmu kebal atau sakti yang memang nantinya bisa diwariskan lagi kepada orang lain,” katanya

Bahkan, dia harus mewanti-wanti para calon jawara untuk tidak melanggar sumpah dan mempergunakan ilmu dengan hal-hal negatif, seperti mengonsumsi minum-minuman keras menjadi pantangan, bahkan hal yang diharamkan.

Apabila melanggar, konsekuensinya harus dihukum, konsekuensi terberat bisa didepak dari padepokan.

“Jawara itu ada artinya, ‘Ja’ berarti jangan merasa jago, ‘Wa’ jangan merasa Wani (berani), ‘Ra’ jangan merasa Rahul (sok). Intinya harus jujur, mengasuh, dan jangan sampai radikal. Harus tetap sopan santun.”

Kini seiring perkembangan zaman, debus tak hanya digunakan untuk beladiri, tapi juga kerap ditampilkan dalam berbagai seni pertunjukan. (rul/*)