Cerita Anaknya Pradi Tentang Corona di Spanyol, Keluar Rumah Denda Rp3,6 Juta!

0
398
Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna, menunjukkan foto anaknya, Devita Pradinda, yang sedang kuliah di Spanyol.(DepokToday/Rul)

LAS PALMAS-Devita Pradinda, warga Kota Depok yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Conservatorio Profesional de Musica de Las Palmas, de Gran Canaria, Spanyol, menceritakan situasi negeri Matador yang memberlakukan lockdown di sejumlah kotanya akibat virus Corona.

Devita adalah anak dari Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna. Kepada sang ayah melalui sambungan telepon, Devita bercerita betapa tegasnya Pemerintah Spanyol dalam menerapkan sanksi kepada warganya yang melanggar lockdown.

Devita mengungkapkan, jika ada warga yang tertangkap keluar rumah tanpa alasan yang jelas, maka akan dikenakan denda sebesar 200 Euro atau setara dengan Rp3,6 juta.

“Disini pada nurut, pada di rumah. Orang-orang disini juga pada bagus (berbagi-red),” kata Devita membuka percakapan dengan ayahnya, Pradi, yang disaksikan oleh beberapa wartawan termasuk dari DepokToday, Jumat (27/3/2020).

Meski aturannya cukup ketat, namun Devita mengaku sangat bersyukur karena mendapat perhatian dari pemerintah setempat dan pihak kedutaan Indonesia.

“Alhamdulillah dari embassy sangat perhatian, kami setiap hari di hubungi via telepon. Logistik juga terjamin, kan dianterin,” ucapnya.

Putri ketiga dari empat bersaudara ini juga menjelaskan, proses belajar mengajar di Spanyol selama lockdown sama seperti di Indonesia yakni via online.

“Tapi yang enggak bagus di sini tuh, sebenernya kan Corona kan dua Minggu masa inkubasinya di rumah buat menjaga diri. Nah tugas sekolahnya tapi malah kebanyakan,” jelasnya.

Diakui Devita, kondisi Spanyol saat ini relatif stabil, namun memang ada aturan-aturan yang cukup ketat.

“Jadi foto-foto di media itu orang keluar ke supermarket bukan karena penuh, tapi karena supermarket setiap masuk cuma boleh lima orang. Jadi yang di luar pada nungguin, dikasih jarak. Disini boleh keluar cuma ke supermarket dan ke apotek,” ungkapnya.

Mahasiswi yang sedang menggeluti seni musik klasik ini menyatakan, karena jumlah korban Corona cukup tinggi, maka Pemerintah Spanyol sedang menyiasati penanganan medis.

“Permasalahannya itu karena bukan tenaga medisnya, tapi karena angkanya melonjak. Jadi hospitalnya (rumah sakit-red) banyak yang enggak memadai, karena jumlah pasien dan rumah sakit-nya tidak sebanding. Itu masalah mengkhawatirkannya, makanya kita dipaksa lockdown,” terangnya.

Diungkapkan pula, setiap pukul 19.00 dan 20.00 malam waktu setempat, ada tradisi applause (tepuk tangan) sebagai tanda hormat untuk para medis.

Devita mengaku di penginapannya ia tak sendiri. Ia bersama sekira 30 orang mahasiswa asal Indonesia yang juga sedang mengenyam pendidikan di Spanyol.

Sementara itu sang ayah, Pradi Supriatna, sempat khawatir dengan kondisi salah satu anak kembarnya itu.

“Ya namanya orang tua khawatir pasti ada, tapi saya yakin dengan penanganan disana dan saya selalu berdoa yang terbaik. Saya juga selalu memantau perkembangan dia disana. Mohon doanya ya…,” simpul Pradi.

(rul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here