Catatan Kelam Gedoran Depok

0
177
Situs sejarah Depok (Istimewa)

Kartini– Di era transisi atau peralihan kekuasan dari kolonial Belanda menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Depok sempat mengalami tragedi berdarah yang cukup memilukan, bagi para korban dan keturunannya.

Ironisnya, aksi tersebut dilakoni sesama anak bangsa. Peristiwa itu dikenal dengan sebutan Gedoran Depok.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun DepokToday, aksi pembantaian itu terjadi pada 11 Oktober 1945. Saat itu, ribuan orang yang terdiri dari para pemuda, datang dari sejumlah wilayah pinggiran Depok.

Mereka menyerbu pemukiman kaum Depok yang kini dikenal dengan sebutan Jalan Pemuda, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat. Tak hanya membunuh, massa juga melakukan penjarahan secara besar-besaran.

Disinyalir, aksi penyerangan yang dilakukan para laskar pemuda itu terjadi akibat adanya kecemburuan sosial. Sebab, saat itu mereka yang bermukim di kawasan tersebut, dikenal dekat dengan pihak kolonial Belanda. Tak hanya itu, kesenjangan ekonomi juga disebut-sebut menjadi salah satu faktor utama pemicu tragedi berdarah ini.

Salah satu saksi mata, Jozua Dolf Jonathans (85 tahun) mengungkapkan, aksi penyerangan terjadi sekitar pukul 10:00 WIB. Saat itu, mereka diserbu dari segala penjuru tanpa perlawanan berarti.

“Sebenarnya aksi penyerangan sudah terjadi sejak sehari sebelumnya, cuma baru di wilayah pinggiran, nah klimaksnya itu tanggal 11 Oktober 1945. Saat itu umur saya baru 13 tahun, kami semua kabur ke pinggir Kali Ciliwung menyelamatkan diri di antara semak-semak,” kata pria yang akrab disapa Opa Dolf itu belum lama ini.

Diceritakan Opa Dolf, mereka yang datang menyerbu pemukiman kaum Depok itu jumlahnya ribuan. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala merah. Keadaan saat itu sangat mencekam. Teriakan bunuh orang Depok selalu diteriakan para laskar.

“Mereka ini juga memukul tiang listrik, itu adalah kode sebab saat itu enggak ada telepon. Tiap tiang jaraknya 20 meter sampai ke Jakarta. Nanti dari Jakarta kasih lagi kode. Nah itu hanya kita dengar, saya sangat takut,” katanya dengan mata berkaca-kaca

Kemudian, setelah jam dua sore, Opa Dolf dan beberapa kerabat serta keluarga kembali ke rumah. Namun nahas, seluruh harta benda yang dimiliki telah dijarah. Bahkan, beras untuk persedian makan pun telah habis dijarah.

“Kita datang ke rumah kursi saja sudah enggak ada, jadi sudah kosong. Malam itu kita tudur di lantai sebab kasur kita di balik untuk dibredet, mereka pikir orang Depok menyimpen emas di dalam kasur. Jadi di jalanan kayak musim salju, isinya kapuk, putih,” katanya mengenang.

Peristiwa itu, lanjut Opa Dolf terjadi tepat di hari perayaan ulang tahun kakaknya, yakni Yacobus Jonathans, 11 oktober 1945.

“Kita waktu itu kebiasan orang Depok sini memasak kacang merah sama kaki babi. Satu panci penuh jadi sudah dimasak ditinggalkan saja. Tapi pas kembali itu doang yang masih utuh. Sedangkan yang lain sudah dicincang ada bekas pedang. Yang aneh itu doang yang enggak disentuh. Puji Tuhan kita masih bisa makan.  Kita bagi-bagi tetangga,” katanya.

Opa Dolf mengaku dirinya tidak tahu betul berapa jumlah pasti korban yang tewas akibat pembantaian tersebut. Namun, dari sekian banyak korban yang ia ingat adalah keluarga De Bruin, yang juga bagian dari keturunan 12 Marga (kaum Depok) pengikut Cornelis Castelein, saudagar VOC.

“Saya teman dekat anaknya De Bruin, yakni Maudy De Bruin. Dia (Maudy) lebih muda empat tahun dari saya. Dia melihat langsung kepala ayahnya dipenggal dan ibunya dibunuh. Dia sempat memohon agar orang tuanya tidak dibunuh tapi tetap dieksekusi. Ya di rumahnya dibantai, yang selamat hanya Maudy,” kata Opa Dolf

Hari berikutnya, para laskar pemuda itu pun kembali. Kali ini, mereka membawa seluruh pria ke gerbong kereta untuk dibawa ke Lapas Paledang Bogor. Sementara para perempuan dan anak-anak digiring ke gedung pemerintahan kaum Depok yang dulu disebut Gemeente Bestuur (kini jadi RS Harapan, Jalan Pemuda).

“Kalau yang cantik-cantik dinikahi. Nah saya waktu itu sudah enggak bisa pikir apa-apa, sudah lemes dibawa ke Plaedang,” ujarnya. (Zahrul Darmawan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here