Catatan Hitam Kota Depok

Kombes Azis Andriansyah raih penghargaan dari LPAI (Istimewa)

BOJONGGEDE– Kapolres Metro Depok, Komisaris Besar Polisi Azis Andriansyah berhasil meraih penghargaan dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) atas dedikasi dan konsistensinya dalam pengungkapan kasus kejahatan terhadap anak.

Tak hanya itu saja, penghargaan yang diserahkan langsung oleh Ketua LPAI, Seto Mulyadi ini sekaligus menobatkan Azis sebagai Kapolres sahabat anak. Penyerahan penghargaan berlangsung di Markas Komunitas Sahabat Bambu, di kawasan Bojonggede, Kabupaten Bogor pada Jumat, 3 Juli 2020.

Dalam paparannya dihadapan tamu undangan yang hadir Azis mengatakan, sebagai kota urban, Depok pun tak terlepas dari berbagai persoalan, termasuk tindak pidana konvensional. Tapi yang memprihatinkan adalah tingginya kasus yang berkaitan dengan anak-anak.

“Data yang ada cukup memprihatinkan. Kota yang dianggap ramah anak, namun kenyataannya tidak seperti itu. Banyak hal yang perlu kita lakukan untuk anak-anak kita, banyak sekali yang perlu kita lakukan,” katanya

Azis mengungkapkan, awal dirinya datang dan menjabat sebagai Kapolres di Kota Depok, kasus tawuran minimal terjadi tiga kali dalam sehari.

“Hampir tiap hari dan mati. Dengan cara sadis dan kurang beradab. Ada yang dicantol celurit, ditancep, akhirnya tidak bisa kita biarkan. Kita melindungi dengan cara berbeda, kita harus didik generasi muda kita menjadi generasi beradab.”

Dirinya menegaskan, membiarkan mereka tawuran sama dengan menciptakan generasi tidak beradab ke depannya.

“Kita sekarang sudah senior, nanti ketika sudah tua kita bisa berbuat apa,  maka sekarang saatnya kita berbuat. Karena itu saya terpaksa mengambil tindakan agak keras terkait tawuran, awal saya amafkan. Tangkap 25-50 orang saya maafkan karena anak-anak, saya maafkan pulang.”

Tapi ternyata, lanjut Azis, kasus itu terus berulang dan pelakunya orang yang sama. “Akhirnya mohon maaf Kak Seto, ada beberapa saya kasih tindakan tegas, ini terpaksa walaupun tetap menggunakan aturan perlindungan anak,” ujarnya

Azis bercerita, dirinya bahkan sempat dibuat jengkel dengan ulah para pelaku yang usianya padahal masih anak-anak.

“Saya bilang sama anak itu, kalau kamu tidak dimaafkan orang tua-mu pasti kamu masuk sel. Tapi kalau orangtuamu maafkan, kamu boleh pulang. Kalau orangtuamu enggak mau, kamu masuk sel, saya bina khusus.”

Fenomena tawuran yang marak terjadi di Kota Depok bahkan seakan menjadi trend bagi kalangan pelajar.

“Sekarang alhamdulilah sudah zero tawuran, dan semoga tidak ada lagi. Tapi waktu itu cukup kerja keras kita, jam 12 malam pun jam enggak sekolah, ada tawuran. Janjian, siaran di IG live, ayo siapa tantang-tantangan. Jadi kita patroli di medsos, kapan mereka mau tawuran, waktu enggak tentu,” bebernya

Dulu, kata Azis, pihaknya bahkan menyebarkan seluruh anggota polisi menjaga gerbang sekolahan. “Padahal tugas juga banyak sekali. Alhamdulilah sekarang berangsur kurang sangat jauh. Karena tadinya hampir tiap hari 3 kali.”

123 Kasus Cabul

Kemudian, yang tak kalah memperihantinkan lagi adalah kasus pencabulan. “Data kemarin, semenjak saya menjabat, eh sorry tahun lalu sampe sekarang, ada 123 LP (laporan) terkait pencabulan anak. Itu baru cabul. Belum KDRT, eskpolitasi yang lain,” ungkap Azis

Dirinya menegaskan, seluruh kasus ditangani dan tidak ada yang direkayasa. “Kita tangani 123 kasus, selesai semua perkaranya, tidak ada yang kita rekayasa. Bahkan kita telusuri supaya bisa healing mereka traumanya agar tidak menjadi pelaku berikutnya.”

Tapi hal ini, kata Azis,  harus menjadi bahan koreksi seluruh pihak. “123 ini yang dilaporkan. Yang tidak dilaporkan berapa banyak. Yang tidak ketahuan berapa banyak. Dan 123 ini di hilir, hulunya bagaimana. Hulunya tentu peran kita semua.”

Semua pihak, menurutnya harus saling berkomitmen untuk mengatasi persoalan tersebut. “Enggak cuma LPAI, polisi, tapi mulai rumah dan lingkungan itu hulunya. Kalau tidak ada kepedulian maka hilirnya ketemu terus. Kita ketemu anak dihukum, tidak baik menjadi trauma dan musuh hukum,” ucapnya

Menurut azis langkah yang paling tepat salah satunya adalah menjadi sahabat anak itu sendiri. Dan ini telah ia anjurkan pada seluruh jajaran Polres Metro Depok.

“Kita ambil langkah. Polisi sahabat anak kita hidupkan terus. Di situasi pandemic minimal sekali ada kunjungan anak TK ke polres, patroli kita ajak lihat foto-foto. Di polsek juga ada. Polsek kalau tidak salah 1-2 minggu sekali, atau TK nya datang ke polsek,” ucapnya

Namun sekali lagi, kata Azis, fenomena yang ada saat ini diharapkan menjadi atensi untuk seluruh pihak, karena hal itu sangat berpengaruh untuk masa depan generasi bangsa.

“Masa depan mereka harus kita lindungi dengan cara apa pun. Baik itu preventif, sosialisasi, edukasi, partisipatif, pemberdayaan dan sebagainya, maupun juga terhadap pekerjaan kepolisian yang terpaksa sedikit tegas, menjewer, kerena sudah sampai hilir yang fatal,” timpalnya lagi (rul/*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here