Catat! Pawang Babi Ngepet Palsu Bakal Disidang Mulai Rabu Pekan Ini

Pelaku penipuan dengan modus babi ngepet (DepokToday.com)
Pelaku penipuan dengan modus babi ngepet (DepokToday.com)

DepokToday- Tak lama lagi, sidang atas kasus dugaan penyebar informasi bohong alias hoax terkait penangkapan babi ngepet bakal digelar di Pengadilan Negeri Depok.

“Iya, sidang pertama Rabu, tanggal 15 September 2021,” kata Humas Pengadilan Negeri Depok, Ahmad Fadil saat dikonfirmasi awak media pada Senin 13 September 2021.

Rencananya, sidang tersebut akan dipimpin oleh majelis hakim yang terdiri dari Iqbal Hutabarat, Yuanne Marrieta, dan Darmo Wibowo. Adapun agenda pada sidang pertama kasus babi ngepet palsu itu adalah pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum.

Namun karena masih situasi pandemi, sidang rencananya bakal digelar secara daring atau online.

Baca Juga: Fakta Baru Adam Ibrahim, Penyebar Hoax Babi Ngepet Depok

Untuk diketahui, Adam Ibrahim, tersangka atas kasus ini dijerat Pasal 14 ayat 1 (ancaman hukuman 10 tahun penjara) atau Pasal 14 ayat 2 (ancaman hukuman 3 tahun penjara) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 oleh kepolisian.

Warga mengurung hewan yang sempat dipercaya sebagai babi jadi-jadian. (DepokToday.com).
Warga mengurung hewan yang sempat dipercaya sebagai babi jadi-jadian. (DepokToday.com).

Adam dianggap bersalah karena telah menyebarkan berita bohong yang menyebabkan kegaduhan di masyarakat. Kasus rekayasa isu babi ngepet itu terjadi pada April 2021 lalu di Bedahan, Sawangan, Depok.

Tipu-tipu Babi Ngepet

Kemudian pada 29 April 2021, polisi akhirnya menangkap Adam Ibrahim, yang disebut-sebut merupakan tokoh agama di kalangan setempat.

Kapolres Metro Depok Kombes Imran Edwin Siregar menyatakan bahwa rekayasa ini telah direncanakan oleh tersangka sejak lama.

“Berawal dengan adanya cerita masyarakat sekitar merasa kehilangan uang, ada Rp 1 juta, ada Rp 2 juta. Mereka mengarang cerita dari kehilangan itu dari bulan Maret, jadi ada kurang lebih 1 bulan,” kata Imran.

Polisi menyebut, Adam Ibrahim melakukan rekayasa ini supaya dirinya lebih terpandang sebagai tokoh kampung. Pada penyidik tersangka mengaku membeli anak babi itu secara online, dengan harga Rp 900.000 plus ongkos kirim seharga Rp 200.000. (rul/*)