Cagar Alam Depok, Ide Cerdas Belanda yang Berakhir Sia-sia?

Cagar Alam Depok (Foto: Istimewa)
Cagar Alam Depok (Foto: Istimewa)

DepokToday- Sebagai salah satu kota terdekat dengan Jakarta, Depok ternyata memang sengaja disiapkan sebagi wilayah untuk menangkal banjir Ibu Kota. Adapun bukti di antaranya adalah keberadaan Cagar Alam, yakni taman hutan raya atau Tahura.

Rancangan itu digagas sejak zaman kolonial Belanda. Disitat dari goodnewsfromindonesia, gagasan itu muncul dari seorang pria bernama Herman van Breen, tokoh sentral melawan banjir dari Technische Hoogeschool Bandung.

Sebab menurut begitu sulit penanganan banjir Kota Batavia (Jakarta) akibat perusakan lingkungan di sekitar puncak untuk perkebunan teh.

“Membayangkan di masa depan pinggiran selatan Jakarta, terutama Depok sebagai kawasan biru atau pemertahanan air, sekaligus kawasan hijau alias pepohonan melulu,” kata sejarawan JJ Rizal dikutip pada Rabu 29 September 2021.

Baca Juga: Bikin Merinding! Wanita Ini Diduga Diseret Makhluk Gaib, Nih Videonya

Menurut dia, Cornelis Chastelein tuan tanah di daerah Depok memang telah membangun kota tersebut sebagai daerah hijau. Karena itu gagasan wilayah hijau di pinggiran Jakarta Selatan itu bukan hanya angan-angan semata.

“Bahkan dia membayangkan lebih dari sekadar Depok kota taman, yaitu kota taman dengan arboretum atau hutan kota,” katanya dikutip dari goodnewsfromindonesia.

Ide Cerdas Belanda

JJ Rizal mengungkapkan, di Kota Depok saat itu Chastelein telah mewujudkan gagasan tentang daerah hijau, seperti penentuan kawasan Ratu Jaya, Rawa Geni hingga Mampang yang di timurnya berbatasan dengan Parung Belimbing sebagai hutan Depok.

Soal bagaimana ketatnya Chastelein menjaga hutan Depok itu dapat dibaca dalam wasiatnya. “Anakku Anthony Chastelein budak-budak turun temurun tiada sekali-sekali boleh potong atau memberi izin akan potong kayu dari hutan.”

Baca Juga: Waspada! BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Depok Sampai Oktober

JJ Rizal mengungkapkan, Chastelein memang sosok yang mencintai lingkungan, dirinya mengkritik keras ketika hutan-hutan di daerah sekitar Batavia dibabat dan dijadikan kebun tebu untuk industri gula Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC).

Dirinya paham pembabatan hutan akan merusak keseimbangan vegetasi tropis.

“Kekhawatiran itu benar karena pembabatan hutan itulah yang membawa bencana ekologi dengan wabah penyakit-penyakit aneh sehingga mematikan VOC dan kota Batavia sejak pertengahan abad ke-18,” ucap Rizal.

“VOC bangkrut dan penduduk dipaksa pindah mencari tempat baru ke selatan di sekitar Gambir,” sambungnya.

Baca Juga: Sidang Hoax Babi Ngepet, Saksi: Bingung Babi Asli Disebut Babi Ngepet

Sepeninggalnya, warisan dari Chastelein masih bisa dinikmati oleh masyarakat. Sampai hampir dua abad hutan kota Depok yang disebut Cagar Alam di kawasan Pancoran Mas itu masih sangat memukau.

“Terutama karena memiliki jenis-jenis tanaman yang khas dan tidak ada lagi di Jawa, seperti Sloanea Javanica yang akarnya lebar dan Orania Macroladus sejenis palem,” tuturnya.

Tentang Cagar Alam Depok

Hutan ini dahulunya memiliki luas hingga 150 hektare, merupakan peninggalan pada abad ke 17. Tetapi kemudian terus menyusut akibat perubahan fungsi menjadi lahan pertanian, hingga hanya tersisa 7,1 hektare.

Khawatir terus menyusut, pada 31 Maret 1912, Nederlands Indische Vereniging Tot Natuur Berscherming atau Perhimpunan Perlindungan Hutan Alam Hindia Belanda bekerja sama dengan kota praja (Gemeente) Depok menetapkannya sebagai cagar alam (natuur reservaat).

Baca Juga: Ketika Sumanto Divaksin, Apa Bisa Jarumnya Tembus?

Bahkan hal ini konon disampaikan Prof. Dr O Porsch di Wina, Austria sebagai kawasan cagar alam pertama di Hindia Belanda.

“Inilah momen penting bagi tonggak sejarah konservasi modern di Indonesia,” kata Rizal.

Berbeda dengan pembangunan Kebun Raya Bogor di Buitenzorg (Bogor) yang dimaksudkan untuk menghutankan kembali dengan mengumpulkan pohon langka (forest).

Sejumlah wilayah Depok terendam banjir. Salah satunya di Jalan Margonda. (DepokToday.com)
Sejumlah wilayah Depok terendam banjir. Salah satunya di Jalan Margonda. (DepokToday.com)

Cagar Alam Depok sendiri justru ditetapkan untuk tetap mempertahankan keasliannya sebagai asli hutan belantara (jungle).

Namun memasuki tahun 1990-an, melalui SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 276/Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999, Cagar Alam Pancoran Mas Depok kemudian menjadi Tahura.

Hal ini karena turun kualitasnya sebagai wilayah konservasi.

“Ini menyedihkan tetapi tetap masih membanggakan karena Depok menjadi salah satu dari 22 kota di Indonesia yang memiliki Tahura atau Taman Hutan Raya,” tegasnya.

Baca Juga: Antisipasi Bencana, Dinas PUPR Normalisasi Daerah Serapan Air, Tiga Situ Dapat Penanganan Serius

Cagar Alam menjadi bagian dari ruang terbuka hijau yang berfungsi untuk menekan pencemaran udara, perubahan iklim, dan penampung cadangan air bersih.

Pengelolaan ini juga berfungsi untuk pelestarian berbagai macam flora dan fauna, baik endemik tahura atau bukan endemik.

Dahulunya terdapat banyak pepohonan rindang dan menjulang tinggi, merupakan habitat yang nyaman bagi berbagai jenis burung.

Nasib Habitatnya Kini

Sementara di dalam semak belukar menjadi habitat bermacam sarangga, berbagai hewan seperti kijang, harimau Jawa, monyet, kancil, rusa, bangau putih, dan kelinci hutan.

Namun semua kekayaan hayati tersebut hanya tinggal kenangan masa lampau. Hingga tahun 2000 di hutan ini masih ditemukan monyet, biawak dan ular. Kini, yang tersisa hanya hewan melata serta sejumlah jenis burung.

Keadaannya sudah tak ada bedanya dengan sebuah lahan yang dengan mudah disulap menjadi hutan beton.

Jalan Raya Margonda, Depok (DepokToday.com)
Jalan Raya Margonda, Depok (DepokToday.com)

Menurut Rizal, kawasan Depok pernah masuk konsep green belt atau sabuk hijau yang dicanangkan Wali Kota Jakarta, Soediro tahun 1957.

Begitu juga dalam master plan Jakarta 1968-1985, namun hal ini berantakan setelah Soeharto memindahkan Universitas Indonesia ke Depok.

“Sejak itulah ide kota yang bertopang pada ruang biru dan hijau berantakan,” kata Rizal. (rul/*)