Brojodento Labuh, Potret Kabinet Jokowi di Dunia Wayang

Pagelaran wayang mewarnai Hut UP ke-53

JAKARTA– Universitas Pancasila (UP) punya cara tersendiri untuk menggambarkan kondisi Indonesia usai Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, berlalu. Hal itu dituangkan dalam pagelaran seni Wayang Kulit.

Dengan lakon atau tema Brojodento Labuh yang ditampilkan oleh dalang kondang Ki Anom Suroto, pertunjukan seni khas tanah Jawa itu menjabarkan Brojodento sebagai putra bangsawan Negeri Pringgondani yang mempunya hak menjadi Raja Pringgodani, namun bersedia menyerahkan hak tersebut tanpa pamrih, kepada anak kakak perempuannya (Dewi Arimbi), yaitu Raden Gatotkaca.

Pada cerita itu dijelaskan, sebelum pelantikan Gatotkaca sebagai Raja, Brojodento diprovokasi, dibujuk dan diiming-imingi, denag segala cara dan akal busuk oleh Sengkuni (pihak ketiga). Diawal sang bangsawan yang terpengaruh tapi akhirnya sadar dan memilih labuh, yaitu mengabdi dan bekerja sepenuh hati untuk kemajuan kerajaan atau institusi.

“Wayang kulit itu kalau dimaknai dibaca hanya sekedar tontonan akan hilang akan pendek tertelan waktu, tapi kalau dimaknai sebagai simbol situasi bangsa negara atau dunia itu jadi menarik,” kata Dekan Fakultas Hukum UP, Prof Ade Saptono, Senin 4 November 2019

Dirinya menjelaskan, pagelaran wayang ini adalah simbol kejadian yang bisa digambarkan secara kekinian sehingga hal itu akan menarik dan tak akan hilang oleh waktu. Dan lakon itu sesuai dengan momentum bangsa saat ini.

“Itu sebenarnya pertarungan mengukur kerelaan, kedewasaan sang anak bangsawan tadi. Di awal sempat terpengaruh untuk jadi raja, presiden, tapi setelah dipikir panjang lebar dengan kematangan jiwanya akhirnya tidak bersedia mengejar impian itu. Dia ingin mengabdi tanpa pamrih memajukan kerajaan,” bebernya

Lebih lanjut Ade mengatakan, dalam konteks Indonesia, lakon tadi seakan menggambarkan kerukunan kabinet Jokowi. Dan itu menjadi tontonan yang menarik.

“Semua akhirnya gotong royong masuk jadi satu untuk memajukan Indonesia. Wayang itu juga begitu. Di universitas juga begitu. Jadi konflik engga perlu terjadi. Dengan demikian pasti percepatan pembangunan akan terealisasi,” katanya

“Jadi inilah simbol-simbol yang ingin kami tampilkan. Bekerja tanpa pamrih,” timpalnya lagi

Sementara itu, Rektor UP, Prof Wahono Sumaryono menungkapkan, wayang kulit adalah warisan bangsa dan budaya yang adi luhur sehingga patut untuk dijaga dan dilestarikan. Ceritanya yang penuh filsafat dan makna-makna tentang kehidupan diharapkan mampu memperkuat bangsa ini.

“Semoga pagelaran ini akan meningkatkan ketaqwaan kita pada Tuhan, kecintaan kita pada nusa dan negara dan meningikatkan persatuan kita sbagai warga negara untuk terus menjaga persatuan NKRI,” katanya

Perayaan Hut UP ke 53

Pagelaran yang disajikan bertepatan dengan ulang tahun UP ke -53 itu pun sukses membius ribuan penonton yang hadir memadati lapangan Fakultas Hukum UP, Jakarta Selatan, pada Sabtu malam, 2 November 2019. (rul/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here