Bongkar Tingkah Atasan, Sandi Damkar: Saya Tidak Kuat

Sandi pegawai honorer Damkar Depok yang mendapat tawaran damai usai membongkar dugaan korupsi. (Foto: Depoktoday.com)
Sandi pegawai honorer Damkar Depok yang mendapat tawaran damai usai membongkar dugaan korupsi. (Foto: Depoktoday.com)

CILODONG- Sandi, pegawai honorer Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok, mengaku, mengalami intimidasi sejak melakukan aksi protes atas dugaan kasus korupsi.

“Teman-teman saya juga diintimidasi. Saya ada bukti rekaman-nya. Mereka minta maaf sama saya, nggak bisa ikut dukung karena punya anak istri. Ya saya pun juga punya keluarga, tapi kalau saya karena sudah kecebur, ya saya lanjut,” ujarnya dikutip pada Kamis 15 April 2021

Bahkan, Sandi menyebut, dirinya telah mendapat surat peringatan atau SP tanpa dijelaskan letak kesalahannya.

“Yang saya pertanyakan surat tegurannya itu dalam hal apa. Apakah kinerja, karena saya merasa absensi saya full. Kinerja saya sesuai dengan apa yang dikomandokan. Saya selalu melaksanakan tugas,” katanya

Baca Juga: Bendahara Hingga Mantan Sekdis Damkar Diperiksa Jaksa

Ia mengaku, selama empat tahun bertugas, baru kali ini mendapat SP.

“Untuk intimidasi terhadap teman-teman saya ada juga beberapa percakapan kesaksian mereka, mereka diancam dipecat apabila mendukung aksi saya,” tuturnya

Ketika ditanya siapa yang melakukan intimidasi, Sandi memilih merahasiakannya.

“Pejabat. Saya tidak bisa menyebutkan. Pejabat terkait di Dinas Pemadam Kebakaran. Bahkan mereka muter ke beberapa tempat UPT (Unit Pelaksana Teknis) dan mereka menyuruh teman-teman untuk tanda tangan tidak mendukung aksi saya.”

Sandi sempat meluapkan kekecewannya dan berharap atasannya untuk mengerti.

“Untuk pejabat Damkar, mohonlah pak saya. Pak, apakah kalian merasa seperti kami, darah kami yang kami tumpahkan bekerja, perasaan kami, batin kami, tenaga kami di lapangan. Bapak tidak merasakan, tapi yang merasakan anggota di lapangan pak,” katanya

Sandi merasa, tuntutan pekerjaan, dan resiko yang diterima tak sebanding dengan hasil yang didapat.

“Kami dituntut bekerja 100 persen, akan tetapi bapak bisa pikirkan sendiri, apakah bapak memberikan layak kepada kami 100 persen hak kami pak,” tuturnya

Tak hanya itu, ia juga menyinggung soal kualitas alat-alat penunjang kerja yang menurutnya jauh dari kata standar.

“Ini saya bergerak sendiri karena saya merasa tidak kuat, banyak desakan juga saat kami bekerja dikomplain, yang merasakan komplain warga kami di lapangan pak, komandan regu, kami yang merasakan, bukan bapak.” (rul/*)