Bikin Merinding, Ini Kisah Kak Seto Lolos Dari Tsunami Maut Aceh

Kak Seto (Foto: Istimewa)
Kak Seto (Foto: Istimewa)

DepokToday- Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto, rupanya punya pengalaman spiritual yang cukup menggetarkan hati. Kala itu, ia lolos dari ancaman maut tsunami besar di Aceh.

Peristiwa bersejarah yang terjadi pada 26 Desember 2004 itu, sangat membekas dibenak Kak Seto dan keluarga. Pria kelahiran 28 Agustus 1951 itu nyaris jadi salah satu korban musibah tersebut.

Lantas bagiamana Kak Seto lolos dari tragedi maut tersebut. Berikut ulasannya.

Baca Juga: Listrik Padam Tidak Terencana di Lokasi Ini, Karena Gangguan Trafo PLN Depok

Kejadian itu bermula ketika Seto mendapat undangan seminar di Banda Aceh, beberapa hari sebelum kejadian.

“Nah saya selalu membuat jadwal seminggu dan itu disebar, ditempel dimana-mana. Nah anak saya lihat, loh kok ini aku lihat ayah mau pergi ke Aceh hari Sabtu, padahal ini akhir tahun. Kan ayah janji waktu itu, utamakan keluarga. Ini akhir tahun, tolong deh batalkan,” kenang Kak Seto saat menjadi bintang tamu di channel YouTube VINDES dikutip DepokToday pada Selasa 19 Oktober 2021.

Saat itu ia sempat bersikeras untuk tetap berangkat ke Aceh.

“Wah saya bilang nggak. Semua protes, terutama anak yang remaja kala itu dia SMP. Akhirnya ya sudah, saya telepon mohon ijin ke panitia, karena saya ada acara keluarga saya tunda awal tahun deh, awal Januari. Akhirnya ya sudah (ditunda),” ujarnya.

Baca Juga: Ketahui, Ini Daftar 21 Jenis Penyakit dan Layanan yang Tidak Dicover BPJS Kesehatan

Tak ingin mengecewakan keluarga, Kak Seto akhirnya menunda seminar dan memilih menghabiskan akhir tahun bersama anak dan istri di Bandung.

“Ketika di Bandung, Minggu pagi di layar televisi berita tsunami besar di Aceh. Akhirnya kita sujud syukur disitu, ya sudah kita tidak menyangka.”

Bareng Kopassus, Kak Seto Ajak Anak Angkat Jenazah

Namun karena saat itu dia sudah aktif di Perlindungan Anak, Seto kemudian diajak oleh Menteri Sosial untuk membantu menghilangkan trauma anak-anak korban tsunami Aceh. Ia berangkat menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.

“Saya minta izin, akhirnya dibolehin sama keluarga. Anak saya bilang gini, boleh asal saya ikut. Jadi anak yang pertama yang melarang itu minta ikut dampingi saya. Ya sudah, disana kami akhirnya mengangkat jenazah dengan anggota Kopassus dan sebagainya dan mendirikan trauma center untuk anak-anak-anak.”

Setibanya di Aceh, Seto terkejut lantaran hotel yang harusnya ia tempati ternyata sudah rata dengan tanah akibat gempa dan banjir besar saat itu.

Baca Juga: Seorang Siswa Terpapar COVID-19, PTMT SMPN 10 Dihentikan

Dari kejadian ini, Seto pun berharap pada para orangtua agar membiasakan diri untuk mau mendengar, agar anak tidak takut bersuara dan mengkritik atas apa yang dianggapnya salah.

“Jadi kadang-kadang suara anak adalah suara Tuhan, ibarat suara rakyat suara Tuhan. Jadi itu mungkin bisikan yang mengingatkan saya. Karena kebiasan anak diberi ruang untuk bersuara akhirnya bisa kasih masukan yang positif.”  (rul/*)