Bikin Haru, Begini Perlakuan Kontingen Garuda ke Anak Panti di Libanon

Keceriaan Kontingen Garuda bersama anak panti di Libanon (Istimewa)
Keceriaan Kontingen Garuda bersama anak panti di Libanon (Istimewa)

LEBANON- Belum lama ini, prajurit Kontingen Garuda yang tergabung dalam Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU) XXX-K/UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Panti Asuhan Assosiasi Almabarat, Desa Jwayya, Sector West Lebanon.

Dilansir dari tni.mil.id, tujuan dari kunjungan tersebut untuk memberikan bantuan kepada anak-anak panti asuhan berupa perlengkapan sekolah sekaligus memberikan edukasi tentang profil satgas dan peran sertanya dalam misi perdamaian UNIFIL.

Tampak keceriaan terpancar dari raut wajah anak-anak panti asuhan ketika satgas itu tiba dan langsung membagikan tas beserta perlengkapan sekolah dan mainan kepada mereka.

Dalam kesempatan itu, Kontingen Garuda juga memberikan penjelasan mengenai blue line, blue barrel, serta bahaya ranjau dan UXO (Unexploded Ordnance) atau amunisi aktif tak bertuan yang masih banyak ditemukan di sekitar tempat tinggal mereka, peninggalan perang Lebanon dan Israel tahun 2006 silam.

Tanamkan Efek Positif ke Anak-anak Libanon

Menurut Kapten Laut (E) Agung Budhi S selaku Chief PDMC, kunjungan ini merupakan salah satu tugas yang dimandatkan kepada Satgas MCOU untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara satgas dengan masyarakat terutama anak-anak di daerah misi.

“Keterlibatan MCOU ke panti asuhan memiliki efek positif pada masyarakat terutama anak-anak karena memberikan pengetahuan tentang keberadaan UNIFIL di Lebanon Selatan,” katanya dikutip pada Sabtu 18 Juni 2021.

Sejarah Terbentuknya Kontingen Garuda

Dilansir dari wikipedia, ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Mesir segera mengadakan sidang menteri luar negeri negara-negara Liga Arab.

Pada 18 November 1946, mereka menetapkan resolusi tentang pengakuan kemerdekaan RI sebagai negara merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan tersebut adalah suatu pengakuan de jure menurut hukum internasional.

Baca Juga: Banyak Kapal Angkatan Laut Asing Ingin Tolong KRI Nanggala

Untuk menyampaikan pengakuan ini Sekretaris Jenderal Liga Arab ketika itu, Abdurrahman Azzam Pasya, mengutus Konsul Jenderal Mesir di India, Mohammad Abdul Mun’im, untuk pergi ke Indonesia.

Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh dengan rintangan terutama dari pihak Belanda maka akhirnya ia sampai ke Ibu Kota RI waktu itu yaitu Yogyakarta, dan diterima secara kenegaraan oleh Presiden Soekarno dan Bung Hatta pada 15 Maret 1947. Ini pengakuan pertama atas kemerdekaan RI oleh negara asing.

Misi Pertama Prajurit Kebanggaan Indonesia

Hubungan yang baik tersebut berlanjut dengan dibukanya Perwakilan RI di Mesir dengan menunjuk HM Rasyidi sebagi Charge d’Affairs atau “Kuasa Usaha”.

Perwakilan tersebut merangkap sebagai misi diplomatik tetap untuk seluruh negara-negara Liga Arab. Hubungan yang akrab ini memberi arti pada perjuangan Indonesia sewaktu terjadi perdebatan di forum Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB yang membicarakan sengketa Indonesia-Belanda, para diplomat Arab dengan gigih mendukung Indonesia.

Baca Juga: Ketika Prajurit Laba-Laba Hitam Pamer Kekuatan di Hutan Papua

Presiden Sukarno membalas pembelaan negara-negara Arab di forum internasional dengan mengunjungi Mesir dan Arab Saudi pada Mei 1956 dan Irak pada April 1960.

Pada 1956, ketika Majelis Umum PBB memutuskan untuk menarik mundur pasukan Inggris, Prancis dan Israel dari wilayah Mesir, Indonesia mendukung keputusan itu dan untuk pertama kalinya mengirim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB ke Mesir yang dinamakan dengan Kontingen Garuda I atau KONGA I. (rul/*)