Bikin Geger, Seorang Pedagang Diduga Bunuh Diri di Lintasan Kereta Kemiri Muka

Ilustrasi mayat/ Ibu dan anak ditemukan tewas di perumahan Gema Pesona. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi mayat/ Ibu dan anak ditemukan tewas di perumahan Gema Pesona. (Foto: Istimewa)

DepokToday –  Seorang perempuan berinisal SA, warga Kampung Bulak, Keluruhan Kemiri Muka, Kecamatan Beji diduga nekat mengakhiri hidup atau bunuh diri dengan cara menabrakan tubuhnya ke kereta yang tengah melaju di kawasan Pasar Kemiri Muka pada Rabu sore, 29 September 2021.

Kapolsek Beji Kompol Agus Khaeron mengungkapkan, pihaknya masih menggali informasi tentang kejadian tewasnya perempuan tersebut.

“Belum jelas. Ada yang ngomong karena ada masalah, ada yang bilang lagi nyeberang bengong, di lintasan bengong, macam-macam infonya,” papar Agus.

Dirinya juga belum mengetahui dimana saat ini jenazah berada, proses pengumpulan informasi masih terus dilakukan pihak Kepolisian.

Namun, menurut dia, korban merupakan seorang pedagang di Pasar Kemiri Muka. “Korban pedagang, orang kemiri,” sebut dia.

Pandemi Picu Lonjakan Kasus Bunuh Diri

Mencari jalan pintas untuk meakhiri hidup dipilih sebagian orang. Bahkan pada pandemi COVID-19 menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meningkatkan risiko seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau Bundir.

Dilansir dari Suara.com, data tahun 2019 menunjukkan bahwa satu dari 100 meninggal bundir. Angka kematian ini jauh lebih tinggi daripada kematian karena HIV, malaria, perang, maupun pembunuhan.

Pada tahun yang sama, sebelum pandemi global, tingkat bundir di seluruh dunia menurun di semua wilayah, menurut WHO, kecuali untuk kawasan Amerika yang mengalami peningkatan 17 persen.

Baca Juga: Masuk Tahap Ini, PUPR Pastikan Musim Hujan Tak Ganggu Targetan Perbaikan Jembatan di GDC

Namun, situasi tersebut sepertinya berubah saat penyebaran virus corona menyebabkan gejolak di masyarakat, meningkatkan faktor bundir secara global, demikian penjelasan Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

“Perhatian kami pada pencegahan bundir kini bahkan lebih penting, setelah berbulan-bulan hidup dengan pandemi COVID-19, dengan banyak faktor risiko bunuh diri — kehilangan pekerjaan, tekanan finansial dan isolasi sosial – masih begitu banyak,” kata Tedros.

WHO mengumumkan serangkaian pedoman, bernama LIVE LIFE, untuk meningkatkan pencegahan bundir.

Peran media ditekankan oleh WHO yang menyatakan bahwa banyak laporan bundir, terlebih jika mereka menggambarkan cara yang digunakan atau berfokus pada selebritas, dapat meningkatkan risiko yang disebut bundir jiplakan.

“Kita tidak bisa — dan tidak boleh — mengabaikan bunuh diri. Setiap bunuh diri merupakan sebuah tragedi,” ucap Tedros. (lala/*)