Berjiwa Malaikat, Ternyata Ini Sosok Sarah Gilbert Si Pahlawan COVID-19

Sarah Gilbert (kaca mata baju merah) Foto: Istimewa
Sarah Gilbert (kaca mata baju merah) Foto: Istimewa

DEPOK- Sosok Sarah Gilbert belakangan ramai jadi perhatian dunia. Sejumlah media ramai-ramai memberitakannya. Padahal selama ini perempuan yang bergelar profesor itu selalu berusaha menutupi profilnya.

Namun arus kebaikan seolah tak terbendung, nama Sarah Gilbert pun akhirnya dikenal harum oleh publik. Ya, dialah penemu vaksin AstraZeneca.

Melansir Hops.id jaringan DepokToday.com, dalam sebuah musibah memang selalu akan muncul dua karakter. Ada yang menjadi pahlawan dan sebaliknya. Nah Sarah Gilbert memilih menjadi pahlawan.

Sosok wanita 59 tahun yang rela masuk kedokteran ini hanya punya satu tujuan mulia, ia ingin menolong banyak orang.

Baca Juga: Menguak Sosok Dewi, Si Cantik dari Baduy yang Bikin Heboh Netizen

Data yang dihimpun menyebutkan, Sarah Gilbert ternyata banyak sekali melahirkan penghargaan atas karya penemuan ilmiah.

Namun budi baktinya tak selesai dari sekadar penghargaan. Dia juga ikut aktif dalam pengembangan vaksin ketika COVID merebak.

Hingga pada akhirnya dia merilis vaksin terbaru bernama AstraZeneca. Bagi yang belum kenal, karya terbaiknya adalah ketika Sarah Gilbert fokus dalam pengembangan vaksin influenza.

Dalam penelitiannya itu, Sarah menyebut kalau tubuh kita sebenarnya sudah memiliki antibodi sendiri untuk melawan virus. Antibodi itu ada di dalam sel yang bernama Sel T. Letaknya ada di dalam sel darah putih.

Beberapa tahun belakangan, dia bahkan getol mengembangkan vaksin yang bisa merangsang sel T untuk melawan berbagai penyakit, seperti kanker sampai malaria.

Sejak awal COVID meletus, Sarah Gilbert aktif untuk ikut menemukan vaksin. Dia bersama 300 orang dari timnya di Oxford, siang dan malam terus berada di laboratorium untuk mengembangkan vaksin covid.

Bahkan, anak-anaknya yang dewasa ikut mensupport dengan menjadi sukarelawan untuk disuntik vaksin. Dan hasilnya berbuah manis, vaksin itu ampuh.

Bersama perusahaan multinasional Astrazeneca, dia akhirnya meluncurkan vaksin terbaru yang disetujui Pemerintah Inggris untuk digunakan di negara itu.

Menariknya, Sarah Gilbert tak ingin kaya sama sekali dari temuan vaksinnya itu. Wanita bergelar profesor ini justru memilih melepas hak paten agar vaksin buatannya bisa dijual murah di seluruh dunia.

Sarah Gilbert mengatakan pada parlemen Inggris kalau dirinya tak ingin mengambil hak paten penuh untuk vaksin ini.

“Saya tak ingin mengambil (hak paten). Sudah seharusnya kita bisa berbagi dan membiarkan semua orang mendapat vaksin,” kata Sarah disitat Reuters dan dikutip pada Kamis 22 Juli 2021.

Momen Haru Sarah Gilbert

Setelah cukup lama profilnya tersembunyi, akhirnya ada beberapa orang yang sepertinya ingin Sarah Gilbert dikenal. Untuk mensiasati hal itu maka skema menarik pun dibuat.

Sarah pun mendapatkan penghormatan dari para penonton tenis yang digelar di Wimbledon sebelum pertandingan dimulai belum lama ini.

Kisah itu bermula ketika penyelenggara pertandingan pertama-tama mengundang Sarah Gilbert untuk datang menyaksikan pertandingan yang dihadiri ratusan orang.

Mereka ramai-ramai tidak sama sekali menerapkan sosial distancing termasuk tanpa masker.

Tapi ada syarat khusus yang diberlakukan penyelenggara kepada para penonton pertandingan. Mereka harus memenuhi syarat sudah divaksin dua kali.

Lalu mereka juga diminta untuk menerapkan herd imunity dengan cara berinteraksi satu sama lainnya di pertandingan.

Alhasil, tidak ada ketakutan dari para penonton ini. Karena mereka yakin dengan vaksin, mereka bisa menangkal ganasnya COVID.

Pihak penyelenggara pertandingan lalu menempatkan Sarah di kursi kehormatan. Tanpa pengetahuan penonton, penyelenggara lantas mengumumkan kalau ada seseorang penemu vaksin yang tengah berada duduk di antara mereka.

Seseorang itulah yang menyelamatkan mereka dan menjadikan pertandingan tenis bisa digelar dengan cara demikian. Sarah lantas kebingungan.

Dari sana, sorak sorai penonton tenis lantas bersahut-sahutan. Mereka memberi penghormatan pada Sarah.

Karena di satu sisi berjasa punya sisi kemanusiaan yang tinggi, di sisi lain, dia juga tidak ambil keuntungan dari sebuah musibah.

Berita itu lantas mendunia. Semua akhirnya tahu siapa Sarah Gilbert tanpa dia menunjukkannya.

Tuhan sepertinya punya cara sendiri memperkenalkan Sarah kepada publik dengan cara yang mengharukan. Terima kasih Sarah. (rul/*)