Berita Terpopuler DepokToday, 22 Juli 2021: Sosok Cantik Dari Baduy, Ujian Sang Juara Asia  

Siti Fadilah Supari. Foto: Instagram
Siti Fadilah Supari. Foto: Instagram

“Iya, karena WHO berhasil kita reformasi. Yang tadinya saya pandang bahwa WHO tidak adil terhadap negara-negara yang berkembang seperti kita, saya reformasi bahwa kita mempunyai kedudukan yang sama,” katanya dikutip Senin 19 Juli 2021.

Kala itu, ungkap Siti, Indonesia disebutkan akan jadi epicentrum flu burung. Dari sanalah ia kemudian berteriak lantang ketika WHO membawa 10 ahlinya dan memaksa Siti Fadilah menerima kalau flu burung bisa menular dari satu manusia ke manusia lain.

“Saya punya buktinya, virus tidak berkembang, lalu kenapa (WHO) Anda bilang menular. Itu prestasi saya, di belakang saya ada 128 negara untuk melawan WHO untuk reformasi. Kenapa saya berani, karena saya jadi saksi melihat ketidakadilan di dalam aturan yang ada,” tegasnya.

“Di mana, itu menyebabkan kami sebagai negara ketiga sangat mudah mendapatkan pandemi,” sambungya.

Tak hanya flu burung, Siti Fadilah juga mengklaim berhasil menangkal masuknya flu babi yang juga dinarasikan buruk oleh WHO.

Tetapi, dia tak menyangka, kegigihannya melawan WHO ketika itu, berbuah buruk.

Dirinya harus menerima fakta diskenariokan terbelit kasus korupsi Rp 6 miliar.

“Saya dikriminalisasi, akhirnya saya masuk penjara. Ternyata memang saya lawan kekuatan yang sangat luar biasa. Ternyata lawan itu kuat sekali, dan ada akibatnya untuk yang melawan,” katanya.

Siti Fadilah sendiri mengamuk pada WHO ketika itu karena akan ada efek buruk yang harus diterima negara jika Indonesia menjadi epicentrum flu burung.

Pertama reputasi Indonesia sebagai sebuah negara. Kedua Indonesia harus menerima konsekuensi diembargo oleh sejumlah negara.

Untuk kasus saat ini, sejumlah negara bahkan sudah mulai melakukan itu kepada Indonesia.

Mulai dari Jepang dan Arab yang mulai mengevakuasi warganya dari Indonesia karena kasus COVID yang menggila. Dan dalam waktu dekat juga akan dilakukan Amerika Serikat.

“Kalau diembargo kita kehilangan kedaulatan, bergaining power kita hilang, jangan sampai.”