Berhenti Jadi Wakil Wali Kota, Ini Catatan Pradi Untuk Depok

Mantan Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna (Istimewa)

MARGONDA- Pradi Supriatna telah resmi mengakhiri jabatannya sebagai Wakil Wali Kota Depok, pada Rabu 17 Februari 2021. Namun demikian, politikus Gerindra itu berjanji tak akan pernah berhenti mengabdi untuk rakyat dan negara.

Sikap tersebut mendapat sambutan hangat dari sejumlah pihak. Pradi dianggap sebagai sosok negarawan lantaran tetap bersikap bijak, meski kalah dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020.

Baca Juga: Kritik Pemerintah, Seniman Depok: Kalau Dilarang Harus Ada Solusi  

Kini, Pradi memposisikan dirinya sebagai penyeimbang kebijakan pemerintah daerah.

“Saya enggak akan diam untuk terus mengabdi. Nanti kalau enggak ada check and balancing siapa. Saya akan bersuara dan berkarya baik atas nama warga atau organisasi kan bisa saja,” katanya

Ia mengungkapkan, ada sederet persoalan yang diakuinya sampai saat ini belum terselesaikan. Beberapa catatan tersebut di antaranya soal infrastruktur.

“Buat saya itu jadi PR besar, kemudian soal perluasan-perluasan jalan, hak-hak pejalan kaki pedestrian, kemudian juga sanitasi, dan penataan daerah-daerah aliran sungai,” katanya

Selain itu, yang jadi sorotannya adalah soal pendidikan hingga kesejahteraan warga.

“Selain infrastruktur, masalah sarana dan prasarana pendidikan tentu saja. Karena memang idealnya antara kebutuhan dengan sarana yang ada ini masih perlu diupgrade lagi,” ujarnya

Pradi juga menyinggung soal pembangunan madrasah negeri di Kota Depok. “Saya harapkan itu bisa diwujudkan di pemerintahan sekarang.”

Tak lupa, Pradi menyampaikan rasa terimakasihnya pada sejumlah pihak yang telah bekerjasama selama ini dalam membangun Kota Depok.

“Saya juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya bila mana memang tidak maksimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tuturnya

Untuk diketahui, pada Pilkada Depok 2020, pasangan Mohammad Idris-Imam Budi Hartono ditetapkan sebagai wali-wakil wali kota terpilih periode 2021-2026.

Kandidat yang diusung oleh PKS, PPP, dan Demokrat itu berhasil meraih suara tertinggi dari pasangan Pradi-Afifah Alia, yang kala itu diunggulkan oleh Gerindra, PDIP, Golkar, PKB, PAN dan PSI. (rul/*)