Begini Jawaban Kepala Dinkes Depok Soal Kasus Obat Kadaluwarsa

Kadinkes Depok, dokter Novarita (DepokToday, Rul)

Depok– Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, dokter Novarita akhirnya angkat bicara terkait pemberian obat kadaluwarsa dan dugaan malpraktik oleh salah satu Puskesmas di wilayah Beji yang dialami oleh bayi Maudy.

“Terkait dengan ini saya melihatnya ini kan kejadiannya hampir bersamaan dengan kejadian di Villa Pertiwi, Cildong Depok, jadi artinya ini memang saat itu kami belum melakukan pembinaan,” katanya pada wartawan, Jumat 4 September 2019

Novarita menjelaskan, pihaknya melakukan pembinaan setelah 8 September 2019, sementara kejadiannya pada 7 September 2019.

“Jadi artinya bukan kejadian lagi, tapi waktu itu memang belum dilakukan evaluasi, logikanya masuk.”

Novarita menegaskan, setelah kasus pemberian obat kadaluwarsa di Puskesmas Villa Pertiwi, Dinkes telah melakukan evaluasi, perbaikan sistem dan ini telah disampaikan pada semua kepala puskesmas di Kota Depok.

“Saya pikirnya juga aduh ini kok kejadian lagi, tapi ternyata saya runut memang kejadiannya (Beji) tanggal tujuh dan saat itu belum kami lakukan pembinaan,” katanya

          Ketika disinggung masih ada tidaknya obat kadaluwarsa yang beredar di Puskesmas, Novarita pun mengakui, sebelum kejadian memang belum ada pengawasan yang insentif. Tetapi setelah peristiwa pertama terjadi di Villa Pertiwi, pihaknya langsung melakukan evaluasi total.

“Jadi setiap bulan kami lakukan pemeriksaan obat kadaluwarsa untuk disingkirkan, ini kasus lama tapi baru muncul, seakan akan kejadian lagi. Padahal lihat tanggalnya hampir bersamaan dengan kasus yang Villa Pertiwi,” ujarnya

Hal itu pun dibuktikan Novarita setelah memeriksa e-tiket yang digunakan pasien (korban). Pada tiket itu tercatat pendaftaran dilakukan pada 7 September 2019. “Jadi pas kejadian belum ada evaluasi yang insentif dari kami,” ujarnya

Bantah Malpraktik

          Selain memberikan obat kadaluwarsa yang nyaris di konsumsi oleh bayi Maudy, pihak Puskesmas juga diduga melakukan kecerobohan karena salah memberikan obat salep. Akibat kejadian itu, kulit bayi tiga bulan tersebut mengalami iritasi hingga memerah dan membengkak.

          Diketahuinya penyalahgunaan salep itu setelah Ida, sang nenek memeriksakan kondisi cucunya ke dokter spesialis. Pada Ida, doketr spesialis menyebut jika salep yang diberikan bukanlah untuk bayi, namun untuk anak 12 tahun ke atas.

“Nah soal itu saya lagi minta opini dari dokter spesialisnya, maksudnya gini kemarin kami sudah kontak IDI (Ikatan Dokter Indonesia), nah ini saya mau ketemu juga dokter spesialisnya siapa yg menyatakan itu obat untuk dewasa,” kata Novarita

          Sebab menurutnya, obat salep itu bisa digunakan untuk bayi. “Bisa, yang penting ada pengawasan. Kalau dalam pengawasan dokter bisa, ini bukan buat jangka panjang pengobatannya. Dilihat kalau dalam waktu 1 atau dua hari tidak sesuai bisa dilaporkan ke dokternya, ini kan komunikas petugas kurang nyambung.”

          Dengan demikian, Novarita mengatakan, kasus ini tidak bisa hanya dilihat dari sisi pasien. “Setiap orang berbeda-beda imunnya, kalau ada hal-hal yang tidak sesuai ya disampaikan ke dokternya lagi, jadi jangan sendiri aja. Jadi supaya dokternya juga tau ada evaluasi ke depannya.”

          Meski peristiwa pemberian obat kadaluwarsa telah terjadi dua kali di Kota Depok, namun beruntung hal itu tidak menimbulkan korban jiwa lantaran langsung mendapat penanganan serius oleh Dinkes setempat. (Rul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here