Begini Cara Sri Mulyani Tanamkan Toleransi

Menkeu RI, Sri Mulyani (DepokToday, Rul)

DEPOK– Universitas Indonesia (UI) menggelar kegiatan mini simposium dengan tema Diversity and Healthy Relationship. Kegiatan itu mengundang berbagai pelajar dari sejumlah wilayah di Indonesia untuk hadir dan mempresentasikan hasil penelitian mereka terkait keberagaman.

Acara yang berlangsung di Fakultas Ilmu Budaya (FIB UI) itu menghadirkan kenynote speaker Prof. Prithviraj Chattopadhyay dari University of Auckland, yang membawakan tema Relational Demography: A Framework for Understanding Diversity in Organizations.

Kemudian dihadiri oleh Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati  yang membawakan tema Challenges of Diversity Management in a Public Organization. Serta Prof. Elizabeth George dari University of Auckland dengan tema How Does Dissimilarity Make A Difference.

Dalam pemaparannya, Sri Mulyani menyampaikan pengalamannya menanamkan nilai-nilai empati dan toleransi di lingkungan Kementerian Keuangan dan Bank Dunia. Menurutnya, nilai toleransi dan empati tidak bisa hanya diperkenalkan melalui omongan, namun juga pengalaman.

“Kami di Kementerian Keuangan mempunyai program anak asuh. Jadi selama seminggu, para pejabat eselon satu dan dua diwajibkan untuk menjadi orang tua asuh dari seorang anak yang berbeda agama dengan mereka selama seminggu,” katanya, Sabtu 12 Oktober 2019

Sri Mulyani menilai, program ini efektif untuk menanamkan nilai toleransi kepada mereka, serta memahami esensi dari sikap empati. Menurutnya, sikap empati menjadi dasar dari hidup bermasyarakat di tengah keanekaragaman suku dan ras seperti Indonesia.

“Dengan empati, kita menjadi memahami, dengan memahami kita menjadi mengerti, dengan mengerti, kita menjadi menghargai,” ujarnya.

Sesi lainnya adalah round table discussion yang membahas tema-tema spesifik terkait isu keberagaman di Indonesia. Selain itu, juga terdapat Writing Camp bagi para peserta. Pihak UI pun berharap dengan kegiatan ini para peserta mempunyai paradigma baru terkait perbedaan. Bukan lagi sebagai sebuah potensi perpecahan, tapi potensi untuk menumbuhkan persatuan, kreatifitas, dan harmoni. (rul)