Banyak yang Terkecoh, Data Kematian COVID Ternyata Tak Real Time

Ilustrasi kematian akibat COVID (Istimewa)
Ilustrasi kematian akibat COVID (Istimewa)

DepokToday- Tenaga Ahli Kementerian Kesehatan atau Kemenkes, Panji Fortuna Hadisoemarto mengakui, kasus kematian akibat COVID-19 yang diumumkan pihaknya selama tiga minggu terakhir sejatinya tidak real time.

Kondisi ini menyebabkan ada ketidaksesuaian angka setiap harinya. Dilansir dari Hops.id jaringan DepokToday.com, menurutnya, ada tiga provinsi besar yang laporan kematian akibat COVID-nya tak sesuai waktu sebenarnya, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Sehingga, catatan angka yang diumumkan ke publik merupakan hasil akumulasi data dari bulan-bulan sebelumnya.

“Berdasarkan analisis dari data National All Record (NAR) Kementerian Kesehatan diketahui bahwa pelaporan kasus kematian yang dilakukan daerah tidak bersifat real time dan merupakan akumulasi dari bulan-bulan sebelumnya,” kata Panji, dikutip dari Akurat, Jumat 13 Agustus 2021.

Baca Juga: [Update] BOR Rumah Sakit di Kota Depok, Kamis 12 Agustus 2021, Tersedia 704 Bed

Ia menjelaskan, NAR sendiri merupakan sistem big data untuk pencatatan laboratorium dalam penanganan COVID-19 yang dikelola Kemenkes.

Panji memberi contoh, berdasarkan laporan kasus Covid-19 pada tanggal 10 Agustus 2021 lalu, dari 2.048 kematian yang dilaporkan, sebagian besar bukanlah angka kematian pada tanggal tersebut atau pada seminggu sebelumnya.

“Bahkan 10,7 persen di antaranya berasal dari kasus pasien positif yang sudah tercatat di NAR lebih dari 21 hari, namun baru terkonfirmasi dan dilaporkan bahwa pasien telah meninggal,” tegasnya.

Contoh Kasus Kematian COVID-19 Tak Real Time

Fenomena serupa baru-baru ini terjadi di Bekasi, Jawa Barat. Dia menuturkan, laporan kasus kematian di wilayah setempat pada Selasa, 10 Agustus 2021 tembus 397 kasus.

Padahal, menurutnya, angka tersebut merupakan hasil rekapitulasi data dari Juni hingga pekan pertama bulan ini.

“Contoh lain adalah Kalimantan Tengah dimana 61 persen dari 70 angka kematian yang dilaporkan kemarin merupakan kasus aktif yang sudah lebih dari 21 hari namun baru diperbaharui statusnya,” kata dia.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Depok, Jumat 13 Agustus 2021, Waspadai Hujan dan Petir

Keterangan yang disampaikan Panji sejalan dengan instruksi yang baru-baru ini diumumkan Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yakni penghapusan laporan kematian.

Sebab, menurut Luhut, data yang dihimpun pemerintah sebenarnya tidak real time.

Kini, muncul satu pertanyaan, jika angka kematian tak sesuai, lantas bagaimana dengan jumlah kasus positif dan sembuh? Benarkah sudah sepenuhnya tepat, atau justru mengalami keterlambatan juga? Sayangnya, pertanyaan tersebut belum dijelaskan pihak Kemenkes. (rul/*)