Bahas Isu Kiamat, LAPAN Akui Bakal Ada Badai Matahari  

Ilustrasi badai Matahari / LAPAN (Foto: Istimewa)
Ilustrasi badai Matahari / LAPAN (Foto: Istimewa)

DepokToday- Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN menyebut, badai Matahari (flare dan CME) sudah sering kali terjadi di era modern. Hal ini tentu saja berdampak pada Bumi. Fenomena itu kerap dikaitkan sebagian orang dengan tanda-tanda kiamat.

Disitat dari situs resmi LAPAN, Matahari merupakan bintang yang aktif memancarkan energinya keseluruh penjuru tata surya, baik berupa pancaran gelombang elektromagnetik, maupun partikel berenergi tinggi.

Sebagian energi Matahari yang dilepaskan sebagai ledakan dapat membawa dampak terhadap kondisi cuaca antariksa.

Terdapat beberapa aktivitas Matahari yang dapat memberikan indikasi tingkat keaktifannya, seperti bintik matahari, solar flare, lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME), dan angin Matahari.

Baca Juga: Waspada! BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Depok Sampai Oktober

Menurut Peneliti Pusat Riset Sains dan Antariksa Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa, Johan Muhammad, sebagian kecil peristiwa flare dan CME telah mengakibatkan gangguan komunikasi, kelistrikan, navigasi, dan lain-lain.

Tapi sebagian besar tidak dirasakan dampaknya. Isu “kiamat akibat badai matahari” ini kerap kali digunakan untuk menakut-nakuti orang awam atau sekedar untuk menjadi “clickbait”.

“Matahari memiliki siklus yang berlangsung sekitar 11 tahun. Pada saat mencapai fase puncak siklus, aktivitas di Matahari meningkat sehingga gangguan terhadap cuaca antariksa juga meningkat,” katanya dikutip pada Selasa 28 September 2021.

Puncak Aktivitas Matahari

Johan menjelaskan, karena merupakan suatu siklus, puncak aktivitas Matahari telah berulang kali terjadi, dan akan terjadi lagi.

Puncak siklus Matahari menjadi periode ketika aktivitas Matahari meningkat, tetapi peningkatan aktivitas Matahari tidak selalu berasosiasi dengan kerusakan.

Flare dan CME (Badai Matahari) sendiri dapat terjadi tidak hanya saat puncak siklus matahari.

“Kita harus memahami dan mengamati perilaku Matahari agar dapat mengantisipasi datangnya ancaman yang mungkin ditimbulkan oleh aktivitas Matahari, tapi tidak perlu khawatir dan ketakutan,” ujarnya.

“Secara resiko, dampak buruk aktivitas Matahari di wilayah Indonesia (daerah ekuator secara umum) lebih kecil dibandingkan wilayah kutub atau lintang tinggi,” sambung dia.

LAPAN Siapkan Langkah Mitigasi

Sementara itu, peneliti Pusat Riset Sains dan Antariksa LAPAN BRIN lainnya, Fitri mengatakan, Bumi memiliki medan magnet dengan sistem arus di dalamnya yang bertindak sebagai tameng dari aktivitas ekstrim matahari.

Upaya mitigasi juga selalu dilakukan untuk mengurangi kerugian akibat dampak cuaca antariksa dengan memahami parameter-parameter yang terlibat dalam prosesnya.

Baca Juga: Lanjutan Sidang Hoax Babi Ngepet Hari Ini, PN Depok Hadirkan Saksi Kunci

Salah satu upaya yang dilakukan oleh LAPAN BRIN seperti dengan membentuk layanan prakiraan kondisi cuaca antariksa yang disebut Space Weather Information and Forecast Service (SWIFts).

Melalui SWIFtS yang dapat diakses melalui tautan http://swifts.sains.lapan.go.id/, pengguna dapat melihat kondisi matahari, geomagnet, dan ionosphere pada hari ini dan besok. (rul/*)