Asal Usul Pesugihan, Berawal dari Kecemburuan Sosial Hingga Ritual Tumbal Zaman VOC

Ilustrasi sesajian untuk tumbal pesugihan. (Istimewa)
Ilustrasi sesajian untuk tumbal pesugihan. (Istimewa)

DepokToday- Tak dapat dipungkiri, cerita tentang mendapat harta dari cara pesugihan hingga kini masih dipercaya sebagian orang di Indonesia.

Meski caranya sadis lantaran memerlukan tumbal manusia atau hewan, namun nyatanya praktik aliran hitam itu masih saja ada penganutnya.

Lantas seperti apakah asal usul pesugihan di Tanah Air. Dilansir dari goodnewsfromindonesia.id, Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Semarang (UNNES) Prof. Wasino, mengatakan bahwa konsep pesugihan itu muncul pada akhir abad 19 dan awal abad 20.

Menurutnya, pada abad 15 dan 17 orang kaya di Nusantara ini tidak ada masalah, seperti di Kudus, Pati, dan Lasem. Karena di wilayah tersebut ada kapitalisme global.

Namun kapitalisme barat kemudian muncul pada abad ke 17, yakni ditandai oleh munculnya VOC. VOC atau kongsi dagangannya Belanda pada zaman itu menguasai di wilayah Indonesia dan kemudian menerapkan monopoli.

Dampaknya kapitalisme pribumi ini tersingkirkan dan pribumi menjadi kelas buruh.

“Yang semula pedagang bergeser menjadi buruh, apalagi sejak tanam paksa. Orang Jawa yang menjadi golongan atas itu menikmati bangsawan dan mendapatkan gaji oleh bangsa kolonial. Dan di sinilah sebenarnya konsep gap (kelas sosial terjadi) itu,” kata Prof Wasino dikutip dari detik.com pada Senin 13 September 2021.

“Nah, ini kita akan aspek, di Jawa itu ada struktur sosial priayi dan wong (orang) cilik,” sambungnya.

Wasino menjelaskan, priayi itu dulu orang kaya dan pedagang. Sedangkan bangsawan itu adalah orang kaya dan pedagang. Tapi setelah ada monopoli (VOC), priayi kelas sendiri dan dia menghindari berdagang.

“Tanda petik priayi itu tidak pantas menjadi pedagang. Kemudian pada strata berikutnya, strata pedagang itu hilang. Lalu muncul strata wong cilik, wong cilik itu buruh,” jelasnya.

Lambat laun kemudian orang Jawa alergi kaya melalui bisnis. Berjualan itu merupakan produk yang tidak terhormat. Bagi orang Jawa pada waktu itu orang terhormat adalah menjadi seorang priayi.

Namun kemudian uang menyebar luas keseluruh pedesaan. Dari hal itu kemudian muncul variasi pekerjaan di desa. Salah satu pekerjaan itu adalah menjadi pedagang.

“Siapa yang menjadi pedagang, ya wong cilik, malahan kebanyakan secara gender adalah wanita yang menjadi pedagang,” ujarnya.

Bermula dari Kecemburuan Sosial

Tidak sampai di situ, karena penyebaran uang ke desa ini kemudian secara tiba-tiba bisnis dalam urban ini menjadi orang kaya. Seperti pemilik andong, penjual makanan, hingga penjual kain. Mereka ini kemudian menjadi orang kaya.

“Ini (orang cilik tadi menjadi orang kaya) mengagetkan priayi di pedesaan. Ini orang biasa menjadi kaya. Di situlah muncul gagasan ide, itu dicurigai itu pesugihan,” tuturnya.

“Nah jadi sebenarnya konsep memelihara pesugihan itu merupakan gejala baru. Abad 15-17 itu tidak ada pesugihan. Pesugihan tulisan pesugihan banyak akhir abad 19 dan awal abad 20,” kata Prof Wasino.

“Apa benar kemudian mereka kaya karena gundul, tuyul. Sebenarnya tidak. Nah, tapi dikembangkan kalau dia (orang kecil) kaya dia memelihara pesugihan seperti buto ijo. Sampai sekarang seperti itu terus. Waktu itu orang kaya diuntungkan dengan sistem kapitalisme yang berkembang,” katanya lagi.

Di sisi lain, Clifford Geertz (1983) dalam Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, mendefinisikan pesugihan sebagai memiliki tuyul.

Memang pengertian yang terlalu sederhana tetapi ia adalah salah seorang antropolog yang pertama kali menaruh perhatian pada fenomena tuyul, meskipun ia juga menyebut keblek, pesugihan pencuri beras.

“Tuyul pun digolongkan sebagai makhluk halus yang karib dan manja, berbeda dengan makhluk halus lainnya,” tulis Geertz dalam bukunya.

Dirinya mengategorikan makhluk halus di Jawa menjadi memedi, lelembut, dan tuyul. Bahkan, salah satu praktik pesugihan adalah menjadi babi hutan jadi-jadian. “Istilahnya, babi ngepet,” katanya.

Geertz juga menggolongkan pesugihan sebagai semacam sihir. Yang perlu dicatat, ritual pesugihan di Jawa selalu bersandar pada sosok-sosok legenda, bahkan tokoh historis.

Anehnya, di antara tokoh itu ada yang sama sekali tidak berhubungan dengan pesugihan. Beberapa di antaranya dipersepsi sebagai orang suci, bahkan wali.

Pesugihan Tidak Pernah Berhasil

John Pemberton dalam buku Jawa, On The Subject of Java, juga melihat bahwa ritual pesugihan terlalu individualis dan bersifat kontrak. Hal ini berbeda dengan ngelmu pencuri dan dalang.

“Karena pesugihan digunakan untuk kepentingan sendiri, memperoleh kekayaan demi kekayaan dengan menukarkan jiwanya dengan uang,” ucapnya.

Baca Juga: Dampak Pandemi, Kos-kosan di Depok Dijual Murah oleh Pemiliknya, Berminat?

Hal yang sama juga dijabarkan oleh beberapa paranormal atau parapsikologi terkait dengan ngelmu dan pesugihan, yang dianggap sebagai bentuk kejahatan atau laku kotor untuk mendapatkan kekayaan karena merugikan orang lain, dan diri pelakunya.

“Apapun bentuk pesugihannya, selalu minta tumbal bagi pemiliknya,” ucap Ki Karebet.

Baik itu tumbal berupa nyawa sendiri, anak-isteri sendiri, maupun anggota keluarga lainnya. Bahkan, ada yang mengatakan, efek pesugihan terkait erat dengan kehidupan anak-cucu sampai tujuh turunan.

“Karena yang diambil oleh pesugihan adalah rejeki anak-cucu,” kata Agus Misbahul Munir, ahli khadam, pengasuh Perguruan Amanat Suci, di Tropodo Waru, Sidoarjo, Jawa Timur.

Oleh karena itu, pesugihan dianggap sebagai sebuah kejahatan yang melibatkan kekuatan supranatural.

Karena dilakukan dengan cara mencuri hak milik orang, serta menjual jiwa dengan kekuatan gaib, ilmu hitam dan menempuh jalan sesat untuk kepentingan sesaat. (rul/*)