Asa Nenek Arfah, Enam Tahun Menanti Keadilan

Nenek Arfah (tengah) didampingi kuasa hukum (Istimewa)

BEJI- Hakim Pengadilan Negeri Depok kembali melakukan pemeriksaan objek perkara terkait kasus penipuan tanah yang dialami Arfah, nenek buta huruf warga Kecamatan Beji. Kasus itu telah bergulir sejak 2015 silam.

Pemeriksaan objek tanah kali ini pun disaksikan langsung oleh nenek Arfah bersama keluarga dan tim kuasa hukum, Jumat 9 April 2021. Pada awak media, wanita 65 tahun ini pun hanya bisa berharap, hak atas tanah itu segera kembali pada dirinya.

“Berharapnya dibalikin. Engak ikhlas saya,” tuturnya dengan nada lemas

Baca Juga: Protes Dugaan Korupsi, Petugas Damkar Ini Minta Tolong Jokowi

Arfah mengaku, sangat sakit hati terhadap pelaku, yang tak lain adalah tetangganya sendiri, berinisial AKJ.

“Saya sakit hati. Saya yang tadinya enggak punya asma sekarang jadi punya asma. Itu warisan dari orangtua saya,” katanya

Sampai saat ini, lanjut Arfah, pelaku tak pernah minta maaf. “Kayanya enggak bakalan minta maaf.”

Sementara itu, kuasa hukum Arfah, Daniel Syuchayadi, meyakini, bahwa kasus itu sudah menemui titik terang.

“Saya rasa kasus ini sudah terang benderang karena pelakunya, Abdul Kodir juga sudah di penjara, artinya kita tinggal buktikan diperkara perdata agar sertifikatnya bisa dikembalikan pada Bu Arfah,” katanya

Namun demikian, Daniel mengaku, pihaknya akan tetap mengikuti proses yang berlaku.

“Kita tunggu putusan hakim, mudah-mudahan majelis hakim yang terhormat memutus seadil-adilnya agar jelas dan tidak salah,” tutur Daniel didampingi rekan kerjanya, Muslim, Umarokhim dan Yadi Mulyadi

Kronologi

Untuk diketahui, kasus ini bermula ketika Nenek Arfah mengaku ditipu oleh seorang pemuda berinisial AKJ pada 2015 lalu. Tahun 2011, ia menjual tanah seluas 196 dari total 299 meter persegi pada AKJ yang tak lain adalah tetangganya sendiri.

Kemudian, sisa 103 meter persegi, Arpah mengaku tak menjualnya sama sekali. Lantaran percaya pada pemuda tersebut, nenek Arpah akhirnya menyerahkan seluruh sertifikat tanah yang dimilikinya, termasuk sisa 103 meter persegi luas tanah di dalamnya.

Tadinya, Arfah berpikir, AKJ akan memecah sertifikat itu. Namun, pada suatu hari di tahun 2015, ia mengajak Arpah jalan-jalan. Ternyata mereka berlabuh ke kantor notaris di kawasan Bogor.

Lantaran tuna aksara alias buta huruf, Arpah manut saja ketika diminta membubuhkan cap jempol di atas surat, yang rupanya akta jual beli sisa tanah, seluas 103 meter persegi tadi.

Setelah itu, pelaku kemudian memberi Arpah uang senilai Rp 300 ribu untuk jajan, tanpa menebus sepeser pun tanah seluas 103 meter persegi milik nenek renta tersebut.

Kasus ini pun akhirnya terbongkar ketika pihak bank mendatangi Arpah dengan dalil tanah tersebut telah digadaikan.

Alhasil, Arpah dan keluarga pun syok lantaran kehilangan hak atas tanah dan bangunan yang ditinggalinya sejak puluhan tahun silam itu.

Setelah menempuh proses hukum yang cukup alot, akhirnya AKJ dinyatakan bersalah dan divonis oleh hakim selama 1,5 tahun penjara pada 2020. Kini, kasusnya masuk pada perkara perdata. (rul/*)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here