Amerika Kembalikan Tiga Artefak Kuno ke Indonesia, Nilainya Fantastis

Artefak kuno (Foto: Istimewa)
Artefak kuno (Foto: Istimewa)

DepokToday- Pemerintah Amerika Serikat akhirnya mengembalikan tiga barang antik berbentuk patung ke Indonesia. Sejumlah artefak itu disebut-sebut senilai Rp 1,25 miliar.

Dilansir dari goodnewsfromindonesia.id, keputusan itu diumumkan Jaksa Wilayah Manhattan, New York, Amerika Serikat, belum lama ini. Pengembalian dilakukan dalam acara reptriasi yang dihadiri oleh Konsul Jenderal RI, Arifi Saiman dan Deputi Agen Khusus Investagi Keamanan Dalam Negeri AS, Erik Rosenblatt.

Adapun tiga patung yang dikembalikan yakni patung Dewa Siwa (ukuran 6x4x8,25 inci) yang bernilai sekitar Rp 186 juta. Selain itu patung Dewi Parwati (ukuran 5,5×4,5×7,5 inci) bernilai sekitar Rp 467 juta, dan patung Dewa Ganesha (ukuran 3×2,5×4,5 inci) bernilai sekitar Rp 596 juta. Total nilai tiga patung tersebut Rp 1,25 miliar.

Baca Juga: Lagu Indonesia Raya Akhirnya Berkumandang di Olimpiade Tokyo 2020

Dalam keterangan tertulisnya, Konjen RI menyampaikan terima kasih dan apreasiasi yang sebesar-besarnya terhadap jasa jaksa New York dan Deputi Agen Khusus Investigasi Keamanan Dalam Negeri AS (HSI), Erik Rosenblatt, berserta jajarannya yang berhasil mengupayakan pengembalian tiga artefak tersebut.

“Atas nama Republik Indonesia, izinkan saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Satuan Perdagangan Barang Antik Kejaksaan Wilayah Manhattan dan Keamanan Dalam Negeri atas kerja keras dan dedikasi mereka dalam melakukan penyelidikan terhadap para pelaku kejahatan untuk membawa keadilan dan pengembalian artefak budaya ke negara asalnya yang sah,” katanya dikutip pada Senin 2 Agustus 2021.

Patung Bersejarah

Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, juga berterima kasih kepada Jaksa Wilayah Manhattan terkait pengembalian sejumlah artefak ini.

Serta Konjen RI di New York yang telah bekerja keras untuk melakukan penyelidikan terhadap para pelaku kejahatan untuk membawa keadilan dan pengembalian artefak budaya ke negara asalnya yang sah.

“Tiga patung itu adalah Objek Diduga Cagar Budaya atau ODCB, mengikuti ketentuan UU 11/2010 tentang Cagar Budaya,” kata Hilmar.

Ia mengungkapkan, bahwa dalam UU sudah dijelaskan bahwa ODCB tidak bisa dibawa ke luar negeri. Namun, tetap ada saja oknum tidak bertanggung jawab yang menyelundupkan barang-barang tersebut ke luar negeri.

“Kita bersyukur bahwa pelakunya sudah ditangkap dan bendanya bisa diselamatkan dan diserahkan kembali ke Indonesia,” jelasnya.

Baca Juga: Rumah Mewah Albertus van Der Parra, Jejak Gubernur VOC di Tanah Depok

Terpisah, Jaksa New York, County Cyrus Vance Jr, pun menyampaikan rasa hormatnya dapat mengembalikan tiga benda cagar budaya kembali kepada pemiliknya yang sah, yakni Indonesia. Ia menyatakan bahwa kejahatan penjarahan warisan budaya dan penjualan artefak kuno, merupakan serangan terhadap sejarah suatu bangsa.

“Saya ingin berterima kasih kepada Unit Perdagangan Barang Antik di kantor saya dan mitra kami di Investigasi Keamanan Dalam Negeri atas upaya tanpa henti mereka yang telah menghasilkan hampir 400 harta yang dikembalikan ke 11 negara selama setahun terakhir. Saya menantikan pemulangan lebih lanjut dalam waktu dekat,” katanya.

Agen Khusus Penanggung Jawab HSI New York, Peter C Fitzhugh, menegaskan pentingnya penyitaan benda-benda cagar budaya. Juga pengembalian ke negara asal untuk menguatkan kerja sama berkelanjutan Pemerintah AS dalam melindungi sejarah bagi generasi yang akan datang.

“Artefak yang dipulangkan hari ini adalah bagian dari kekayaan sejarah budaya Indonesia,” kata Fitzhugh.

Kronologi Pencurian Artefak

Penyelundupan tiga artefak Indonesia yang diduga obyek cagar budaya itu, bermula dari penyelidikan yang dilakukan oleh Antiquites Trafficking Unit, New York Country District Attorney’s Office, bersama dengan Homeland Security AS. Upaya ini sudah dilakukan selama satu tahun terakhir

Tiga artefak ini didapatkan dari hasil jarahan candi oleh pria warga negara Amerika keturunan India bernama Subhash Kapoor.

Pria yang juga seorang dealer seni itu terlibat dalam jaringan perdagangan ilegal benda antik. Kapoor dan terdakwa lain umumnya menyelundupkan barang antik yang dijarah ke Manhanttan, dan menjualnya di galeri yang berbasis di Madison Avenue, Art of the Past.

Sejak 2011 hingga 2020, lebih dari 2.500 artefak yang diperdagangkan secara ilegal oleh Kapoor termasuk dari Indonesia, Kamboja, Sri Lanka, India, Pakistan, Afghanistan, Thailand, Nepal, Myanmar, dan negara-negara lainnya. Nilai total benda-benda cagar budaya itu senilai 143 juta dolar AS.

Baca Juga: Jejak Tole Iskandar, Pentolan Kelompok 21 Kebanggaan Depok

New York County District Attorney’s Office pertama kali mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Kapoor pada 2012. Pada Juli 2019, pengaduan dan serangkaian surat perintah penangkapan untuk Kapoor dan tujuh rekan terdakwa diajukan.

Pada 2020, kantor ini mengajukan dokumen ekstradisi untuk Kapoor, saat ini ia berada di penjara India dan menunggu persidangan.

Daftar Benda Cagar Budaya yang Dikembalikan

Sejak Agustus 2020, New York County District Attorney’s Office telah mengembalikan 393 benda cagar budaya ke 11 negara, di antaranya:

3 artefak ke Indonesia,

12 artefak ke Tiongkok,

13 artefak ke Thailand, dan

33 artefak ke Afghanistan.

Benda yang dikembalikan adalah sepasang patung Budha dari Sri Lanka, sebuah prasasti batu kapur tahun 664 SM dari Mesir.

Selain itu ada juga:

Peti mati emas yang dicuri setelah Revolusi Mesir pada 2011,

3 patung marmer dari Lebanon,

Sebuah mosaik Romawi yang digali dari Kapal Nemi, peninggalan Etruria yang dicuri dari situs pekuburan bersejarah yang dikenal sebagai Kota Orang Mati,

Fragmen sarkofagus marmer,

Arca Budha yang dicuri dari situs penggalian arkeologi,

Sepasang arca abad ke 12 dari India,

Koleksi arca perunggu abad ke-8 SM, dan

Satu set koin Yunani Kuno.

Ratusan artefak lainnya segera dipulangkan setelah negara pemilik bisa menerimanya di tengah pandemi. Sementara itu, lebih dari seribu artefak ditahan pengembaliannya karena menunggu proses pidana terhadap para penyelundup. (rul/*)