Alun-alun Depok Kok di Pemukiman Elit GDC

Alun-alun Kota Depok di kawasan GDC. (Istimewa)

CILODONG- Keberadaan Alun-alun Kota Depok di kawasan elit Grand Depok City (GDC), Kecamatan Cilodong, dinilai tidak tepat. Bahkan, dikhawatirkan hanya akan menimbulkan persoalan baru, salah satunya adalah kemacetan.

“Alun-alun itu di dalam konsep pemerintahan tempo dulu adalah identik dengan halaman balai pemerintahan. Alun-alun itu seharusnya tidak jauh dari balai kota. Lihat alun-alun di beberapa daerah,” kata anggota DPRD Depok, Babai Suhaimi pada Kamis 18 Februari 2021

Baca Juga: Menguak Asal Usul Jalan Boulevard GDC

Menurutnya, apa yang dibangun sekarang ini, di GDC bukanlah alun-alun, tetapi taman kota. Babai meyakini, karena lokasinya yang tidak tepat maka akan banyak persoalan baru akan terjadi.

“Saya memastikan akan banyak menimbulkan persoalan di sana. Kenapa, karena akan menimbulkan kemacetan baru, lalu akan menimbulkan kekumuhan baru kalau memang tidak dipersiapkan dari sekarang,” ujarnya

Adapun faktor penyebabnya, kata Babai, tidak tersedianya lahan parkir dan lokasi untuk para pedagang.

“Mana ada lahan parkir di alun-alun tersebut. Kedua, mana ada lahan untuk para pedagang, tidak disiapkan. Ini aneh,” tuturnya

Dengan demikian, kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menilai pemerintah daerah salah konsep.

“Di bilang alun-alun bukan, dibilang taman-taman kota tapi ada di pertengahan kompleks. Jadi itu sebenarnya taman GDC bukan alun-alun Kota Depok. Jujur saja, saya melihat ini salah konsep dan salah perencanaan. Mubazir menurut saya.”

Babai meyakini, warga GDC akan merasa resah dan terganggu jika nantinya terjadi kerumunan di alun-alun tersebut.

“Karena akan menimbulkan kemacetan kendaraan, ditambah banyak pedagang kaki lima. Coba lihat saat pembukaan waktu lalu. Luar biasa,” tuturnya

“Atau saat ada event-event yang dilakukan komunitas anak muda untuk memakai alun-alun di sana, Apakah harus tidak diizinkan, kan tidak mungkin,” timpalnya lagi

Lebih lanjut Babai juga menyinggung pembangunan gelanggang olahraga (GOR) yang posisinya juga tak jauh dari alun-alun di GDC.

“Saya juga bingung gelanggang olahraga di situ lahan parkirnya dimana, ya kan. Saya berharap pemerintah kota segera membuat sebuah desain GDC itu mau dibuat seperti apa.”

Babai mengungkapkan, hal ini terjadi karena minimnya koordinasi pemerintah daerah, dalam hal ini wali kota dengan pihak-pihak tertentu, termasuk legislatif (DPRD).

“Sejauh yang saya tahu perencanaan yang dilakukan oleh pemerintah kota ya kurang begitu merangkul dan mengajak musyawarah berbagai pihak,” ujarnya

Jadi, kata Babai, jangankan komponen masyarakat, dewan saja sendiri hanya sebagai presentasi.

“Menurut saya dalam menampung aspirasi dan menampung perencanaan yang baik yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah.”

Contohnya, adalah penempatan taman kota di GDC.

“Saya yakin dari 50 anggota DPRD, tidak semuanya tahu dan juga barangkali komisi terkait juga belum tentu secara pasti mengetahui,” katanya

Hal ini, kata Babai, menunjukan kelemahan perencanaan pembangunan di Kota Depok. “Seringkali hal itu (koordinasi) diabaikan. Ego kepada kepentingan dan menurut persepsi mereka.” (rul/*)