Aksi Nekat Tole Iskandar, Pemuda Depok yang Bikin Jatuh Pesawat NICA

Keluarga Tole Iskandar, Arifin Darmo Wahyu (DepokToday.com)
Keluarga Tole Iskandar, Arifin Darmo Wahyu (DepokToday.com)

DepokToday- Tole Iskandar, pahlawan yang sosoknya dibadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Depok, ternyata keturunan bangsawan. Ia dibesarkan di wilayah Ratu Jaya, Depok.

Lalu seperti apa sepak terjang Tole ketika menghadapi penjajah.

Data yang berhasil dihimpun menyebutkan, sulung dari tujuh bersaudara pasangan Raden Samidi Darmorahardjo dan Sukati binti Raden Setjodiwiryo itu mengawali karir militernya sejak usia belasan tahun.

Sang ayah, yang menjabat sebagai menteri perairan pada zaman kolonial Belanda tadinya tidak tahu jika putra kesayangannya tersebut bakal menjadi salah satu pejuang kemerdekaan.

“Saat itu keluarga atau orangtuanya tidak ada yang tahu.  Dia (Tole) balik-balik sudah jadi tentara, pakai samurai panjang,” kata Arifin Darmo Wahyu, keponakan Tole saat ditemui di kediamannya di wilayah Ratu Jaya, Depok, beberapa waktu lalu.

Usut punya usut, Tole ternyata juga pernah mengenyam pendidikan militer bersama tentara Jepang. Karena prihatin dengan kondisi negaranya, Tole kemudian menggalang kekuatan untuk melawan Belanda dan mendapat dukungan dari keluarga.

Baca Juga: Kisah Tole Iskandar, Pemuda Depok yang Bikin Repot Serdadu Belanda

Kala itu, pasukannya hanya berjumlah 21 orang atau yang dikenal dengan sebutan Kelompok 21. Meski usianya masih terbilang muda, namun sepak terjang Tole ternyata cukup disegani lawan maupun kawan.

“Anak buahnya respek sama beliau. Kalau jadi seorang pemimpin harus berani dan jujur, itu jadi patokan kita.”

Tole Iskandar Bikin Jatuh Pesawat

Beberapa kisah yang menggambarkan keberaniannya menyebut, Tole pernah menembak pesawat NICA sekutu Belanda hingga jatuh.

Pertempuran yang dilakukannya pun kerap membuat musuh kewalahan. Itu terjadi di Depok, Bogor hingga Sukabumi.

Namun karena jumlah pasukan dan senjata yang terbatas, Tole dan para prajuritnya pun berhasil dipukul mundur hingga ke wilayah Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat, bersama Batalion 8 pada 1947.

Ketua Umum Depok Herittage Community, Ratu Farah Diba di rumah tua Cimanggis peninggalan Gubernur Gubernur VoC ke-29, Jenderal Albertus van Der Parra. (DepokToday.com)
Ketua Umum Depok Herittage Community, Ratu Farah Diba di rumah tua Cimanggis peninggalan Gubernur Gubernur VoC ke-29, Jenderal Albertus van Der Parra. (DepokToday.com)

Kala itu, Tole memerintahkan pasukannya untuk mudur dan ia nekat ingin menyergap musuh bersama seekor anjing kesayangannya dengan bersembunyi di sebuah lubang.

Di tempat itulah, pekik teriakan Tole yang terakhir sebelum akhirnya dihujani peluru lawan.

“Saat itu om saya ngumpet di parit, tadinya mau nyerang dari lubang itu, tapi ternyata musuh belum datang anjingnya sudah lompat duluan. Ya matilah dibredel disitu,” kata Arifin mengenang kisah yang diceritakan sang ibu dan koran-koran lawas yang dibacanya.

Menurut keterangan Arifin, Tole meregang nyawa dengan cara tragis itu pada usia sekira 25 tahun dan belum menikah. Pangkat terakhirnya adalah Letnan Dua. Kini makam Tole Iskandar berada di Taman Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, setelah dipindahkan dari Sukabumi.

“Om saya (Tole) meninggal saat masih sangat muda. Ia belum menikah. Kami keluarga besar tentu sangat bangga dengan perjuangannya.”

Begitu hebatnya perjuangan Tole Iskandar, hingga ketika ia gugur merupakan pukulan berat bagi rekan-rekannya yang bertahun-tahun berjuang bersama. (rul/*)