Akibat Perubahan Iklim, Madagaskar Dilanda Wabah Kelaparan

Akibat perubahan iklim, Madagaskar dilanda wabah kelaparan. (Tangkapan layar Youtube Al Jazeera English)
Akibat perubahan iklim, Madagaskar dilanda wabah kelaparan. (Tangkapan layar Youtube Al Jazeera English)

DepokToday – Perubahan iklim telah melanda Madagaskar, akibatnya pulau di Samudera Hindia tersebut ditimpa wabah kelaparan dan menjadi negara pertama di dunia yang berada di ambang wabah itu.

Laporan Reuters menyebutkan, setengah juta anak diperkirakan akan kekurangan gizi akut yang menyebabkan keterlambatan perkembangan, penyakit dan kematian.

Beberapa masyarakat disana pun mulai terbiasa mengkonsumsi air manis, serangga hingga daun kaktus untuk mengisi perutnya. Segenggam nasi seolah menjadi harta paling berharga di negara dengan jumlah penduduk 27,69 juta itu.

“Situasi di selatan negara itu benar-benar mengkhawatirkan,” kata Juru Bicara Program Pangan Dunia PBB di Madagaskar, Alice Rahmoun. “Saya mengunjungi beberapa distrik, dan mendengar dari keluarga bagaimana perubahan iklim membuat mereka lapar.”

Rahmoun mengatakan, pola curah hujan di Madagaskar sudah mulai tidak menentu, itu terjadi selama hampir enam tahun kebelakang berdasar penelitian dari University of California di Santa Barbara.

“Di beberapa desa, hujan tepat terakhir terjadi tiga tahun lalu, di desa lain delapan tahun lalu atau bahkan 10 tahun lalu,” kata Rahmoun.

Akibatnya, kata Rahmoun, ladang kosong, benih tidak berkecambah dan tidak ada makanan di Madagaskar.

Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina mengatakan, dampak dari perubahan iklim sangat terasa di negaranya, bahkan sampai menimbulkan musibah.

“Perubahan iklim sangat berdampak dan sangat menonjolkan kelaparan di Madagaskar,” kata Andry Rajoelina saat mengunjungi daerah yang paling parah terkena dampak.

Di sebuah desa di Distrik Amboasary Sud, lebih dari satu juta orang, atau dua dari lima penduduk, membutuhkan bantuan makanan darurat.

“Tahun-tahun sebelumnya hujan, hujan deras. Saya menanam ubi jalar dan saya punya banyak uang. Saya bahkan menikah karena saya kaya,” kata Tsimamorekm Aly, 44 tahun. “Segalanya telah berubah.” tambah pria dengan enam orang anak itu.

Aly mengaku sudah tahun keempat kekeringan melanda wilayahnya. Ia pun terpaksa mengkonsumsi air manis sebagai pengganjal perut. (ade/*)