72 Warga Depok Terkapar Akibat DBD

Ilustrasi DBD (istimewa)

MARGONDA– Sebanyak 72 warga Depok telah terjangkit virus demam berdarah. Beberapa diantaranya, hingga kini masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depok, Jawa Barat.

          Humas RSUD Depok, Setya Hadi mengungkapkan, angka tersebut merupakan jumlah keseluruhan dari pasien demam berdarah dengue (DBD) yang datang sejak awal Januari.

          “DBD untuk data sampai tanggal 28 Januari itu yang sudah kami tangani rawat inap berjumlah 72 orang, baik dewasa maupun anak-anak. Saat ini yang masih dirawat itu berjumlah 12 orang. Tujuh diantaranya dewasa dan lima anak-anak,” katanya seperti dilansir pada Jumat 31 Januari 2020

          Pria yang akrab disapa Hadi itu mengatakan, rata-rata saat ini kondisi pasien telah berangsur membaik, namun masih dalam penanganan tim dokter. Dan jika merujuk pada data tahun lalu, ia menilai angka pasien terjangkit DBD cenderung mengalami penurunan.

          “Kalau dibandingkan tahun 2019 lalu yang mencapai 179 orang, saat ini pertanggal 28 Januari mencapai 72 orang, jadi agak menurun. Tapi tetap kita antisipasi untuk lonjakan kasus DBD.”

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, dokter Novarita mengimbau agar masyarakat ikut berperan aktif mencegah adanya virus DBD. Caranya ialah dengan menjaga kebersihan lingkungannya masing-masing.

“Jadi jangan ngandelin pemerintah, masyarakat harus aktif kerja bakti. Setiap orang harus bertanggungjawab dengan kebersihan lingkungn, khususnya dari tempat-tempat lembab dan bak-bak penampungan air.”

Novarita mengatakan, jika ada yang merasa terkena DBD segera melakukan pemeriksaan ke dokter terdekat.

“ Kalau ada gejala panas, bintik-bintik segera lapor ke puskesmas,” ujarnya

Lebih lanjut Novarita mengungkapkan, jika di satu lingkungan ada warga yang terkena DBD, maka pihak terkait bisa mengajukan untuk dilakukan penyemprotan sarang nyamuk atau foogging dan itu gratis.

“Harus disertakan diagnosa rumah sakit ya. Itu bisa mendapatkan foogging fokus dan itu gratis. Tapi kalau sifatnya inisiatif karena permintaan masyarakat, ada biaya swadaya untuk beli solar dan bensin. Tapi obat dan tenaga gratis dari puskesmas.” (rul/*)