6.000 Guru PAUD Jakarta Siap Edukasi Keluarga Bahaya Konsumsi Kental Manis pada Balita

Ketua Umum PP HIMPAUDI, Prof. Dr. Ir. Netty Herawati M.Si.(Foto: Istimewa)
Ketua Umum PP HIMPAUDI, Prof. Dr. Ir. Netty Herawati M.Si.(Foto: Istimewa)

JAKARTA—Sebanyak 6.000 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) siap mengedukasi keluarga dalam upaya menciptakan Jakarta sehat, sejahtera dan Bahagia.

Hal itu disampaikan Ketua Umum PP HIMPAUDI, Prof. Dr. Ir. Netty Herawati M.Si, pada webinar Edukasi Gizi yang diselenggarakan HIMPAUDI bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) di Jakarta, Rabu 10 Mei 2021.

Menurut Prof. Netty, banyak potensi besar yang bisa dilakukan oleh guru-guru PAUD untuk mewujudkan Jakarta, Cerdas, Sehat dan Bahagia.

 “Guru PAUD ini mendidik anak-anak generasi bangsa, mereka juga bisa menjadi pionir perubahan bangsa,” ujar Prof. Netty.

Prof. Netty menyampaikan saat ini literasi gizi tidak diberikan secara baik oleh para guru dan kalah saing dengan  iklan-iklan produk makanan dan minuman di media TV.

Akibatnya anak-anak mengalami berbagai gangguan gizi dan kesehatan, karena keluarga tidak terbiasa menerapkan kemampuan bagaimana memilih makanan, mengetahui harus dan tidak boleh diminum, serta bagaimana menjaga kesehatan tubuhnya.

“Banyak sekali yang mengira telah mengkonsumsi makanan sehat, padahal tidak sehat. Misalnya, banyak orang merasa susu kental manis itu juga susu, sama seperti susu yang lain. Padahal tidak,” ujar Prof Netty.

Gizi Sangat Penting

Plt. Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekda Provinsi DKI Jakarta, Ir. Suharti, M.A, Ph.D, yang hadir mewakili gubernur DKI Jakarta mengatakan, bahwa literasi gizi sangat penting.

“Tidak hanya guru saja yang memberikan literasi kepada anak didiknya, tetapi juga kepada para orang tua juga perlu. Karena faktanya memang orang tuanya lah yang menyiapkan konsumsi anak-anak nya.  Gizi menempatkan pada tumbuh kembang anak yang luar biasa. Kalau konsumsi gizinya tidak baik maka pertumbuhan anak, termasuk “ kata Ir. Suharti.

Sedangkan Dr. dr. Nur Aisiyah Widjaja SpA (k) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik, menyatakan tumbuh kembang anak sejak lahir sampai usia 2 tahun sangat pesat.

“Di usia itu, anak memerlukan pemberian makanan yang mengandung zat gizi mikro (protein, lemak, karbohidrat) dan makro (vitamin dan mineral) untuk mencapai tumbuh kembang optimal. Kalau kita memberikan nutrisi yang salah maka itu akan berdampak pada gangguan pertumbuhan,” jelas Nur Aisiyah.

Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat, menambahkan, pengenalan literasi gizi yang masih rendah di masyarakat selama ini, telah menyebabkan hampir 100 tahun Indonesia direcoki oleh informasi yang salah atau iklan yang salah terutama mengenai asupan gizi seperti susu kental manis.

“Jadi, kebanyakan selama ini literasi gizi banyak simpang siur atau salah persepsi, yang menganggap susu kental manis itu sebagai minuman bernutrisi.  Padahal faktanya tidak lebih adalah mengandung gula yang cukup tinggi yang tidak lain hanyalah sirup beraroma susu,” katanya.

Dia berharap orang tua nantinya dapat memberikan asupan gizi kepada balita atau anak-anak mereka, yang sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh pemerintah maupun peraturan yang ada di Indonesia.

“Jadi, harus sesuai dengan kebutuhan gizi anak-anak, tidak boleh banyak gula,” ujarnya.

(Siaran Pers)