30 Persen Kejahatan di Depok Melibatkan Anak-anak

0
144
Polisi ungkap kejahatan di Depok sepanjang 2019. (DepokToday, Rul)

MARGONDA– Data kepolisian mencatat, angka kejahatan atau tindak kasus pidana di Kota Depok sepanjang 2019 mencapai sebanyak 2.220 kasus. Ironisnya, angka ini 30 persen diantaranya dilakukan oleh para pelaku dengan status anak-anak.

“Iya ukuran tindak pidana yang melibatkan remaja itu cukup banyak bisa 30 persen. Artian anak-anak ini adalah remaja ya, mereka yang berumur belasan tahun dan menjelang 25 tahun,” kata Kapolres Metro Depok, Ajun Komisaris Besar Polisi Azis Andriansyah pada Rabu 26 Desember 2019

Namun jika dirata-rata secara keseluruhan, jelas Azis, angka kejahatan di Kota Depok cenderung mengalami penurunan dibanding pada 2018 lalu yakni  2.528 kasus dan 2.220 kasus pada tahun 2019.

Dari ribuan kasus pidana itu, sejumlah diantaranya adalah kasus yang cukup menonjol dan meresahkan masyarakat, seperti begal, perampokan, pencurian kendaraan bermotor dan kasus penganiayaan. Kemudian dari 11 jenis kasus kejahatan jalanan yang membuat resah masyrakat, jumlahnya mencapai 1.047 kasus pada 2018 dan di 2019 ada 816 kasus.

Penyelesaian untuk 11 kasus yg meresahkan tersebut kata Azis, ada 834 kasus yang diselesaikan. “Itu artinyan tingkat persentase pengungkapan mencapai 83,70 persen. Sedangkan di 2018 hanya 79,65 persen tingkat penyelesaiannya.”

Azis mengungkapkan, releas akhir tahunan ini bertujuan sebagai intropeksi dan analisa evaluasi kinerja Polres Metro Depok dan jajaran. Ia pun tak menampik ada beberapa perkara yang masih saja terjadi namun ia memastikan trendnya mengalami penurunan.

“Namun tentu kita perlu upaya-upaya yang lebih keras lagi dari apa yang telah kita lakukan di tahun 2019 lalu,” ujarnya

Penyebab Kriminalitas Anak

Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, anak-anak yang terlibat dalam kasus pidana biasanya dipicu atau termotivasi pada hal-hal negatif yang bertujuan sebagai eksistensi diri dan gaya hidup. Umumnya, mereka terpengaruh pada lingkungan dan kurangnya pengawasan orangtua.

Beberapa aksi dipicu perkumpulan dengan dalih setia kawan. Kemudian dilanjut dengan pesta minuman keras.

“Mereka ini cenderung ikut-ikutan, mabuk terus mencari uang hanya untuk hura-hura saja. Misalnya dengan membegal, geng motor, mencuri, dan lain-lain dengan maksud bukan untuk memperkaya diri, tetapi hanya untuk kesenangan saja,” tuturnya

Terkait hal itu, Azis pun menegaskan, perlu adanyanya peran dari lingkungan sekitar dan orangtua yang turut serta melakukan pembinaan karena usia para pelaku tersebut dalam posisi labil alias masih mencari jati diri.

“Kami sendiri telah aktif melakukan berbagai pencegahan terhadap kenakalan remaja. Misalnya melakukan sosialisasi di tempat anak-anak biasa berkumpul, seperti di sekolahan, atau lokasi mereka berkumpul supaya mereka tidak melakukan kegiatan negatif,” ujarnya. (rul/*)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here