2.447 Orang di Indonesia Terjangkit Virus Hepatitis A

National Media Briefing on Hepatitis A (istimewa)

DEPOK– Sejak tiga tahun terakhir, kejadian Hepatitis A di Indonesia terus meningkat. Dan bahkan, belum lama ini peristiwa itu kembali ditemukan di delapan provinsi yang tersebar di 11 kabupaten/kota. Dua daerah diantaranya terpaksa ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa atau KLB.

Data itu merujuk pada Surat Edaran Dirjen P2P kepada Kepala Dinkes provinsi dan kabupaten/kota, yang ditanda tangani pada tanggal 9 Desember 2019. Pada surat itu menyatakan telah terjadi peningkatan kasus Hepatitis A sejak bulan April 2019 hingga saat ini.

Adapun jumlah korban yang tercatat mencapai sebanyak 2.447 orang. Angka itu tersebar di Sulawesi Utara sebanyak 50 kasus, Jawa Timur 1.641 kasus, Sumatera Utara 25 kasus, Banten 63 kasus, Jawa Barat 468 kasus, Kalimantan Selatan 62 kasus, DKI Jakarta 30 kasus, dan Sumatera Selatan 108 kasus.

Di Depok sendiri, pemerintah setempat telah memberikan status penyebaran kasus virus Hepatitis A menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) dari hasil identifikasi 262 kasus. Selain di Depok, Hepatitis A juga telah menjangkiti masyarakat Pacitan, Jawa Timur, bahkan Bupati Jawa Timur telah menetapkan status KLB pada 25 Juni 2019, dengan total kasus lebih dari 950 orang.

Angka tersebut menunjukan kenaikan secara global jika dibandingkan pada tahun 2016 sebanyak 126 kasus, tahun 2017 sebanyak 218 kasus, dan 568 kasus pada tahun 2018.

Terkait hal itu, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) dan Ikatan Alumni UI (Iluni UI) menyelenggarakan kegiatan bertajuk National Media Briefing on Hepatitis A sebagai upaya advokasi publik untuk menurunkan prevalensi infeksi Hepatitis A di Indonesia. Kegiatan itu berlangsung di RSUI kampus UI Depok, Jawa Barat pada Kamis 19 Desember 2019

Direktur Pelayanan Sekunder dan Unggulan, RSUI, Dr. dr. Sukamto menilai, pengetahuan masyarakat tentang Hepatitis A, upaya pencegahaan dan dampak yang diakibatkannya masih perlu ditingkatkan.

Apalagi dengan meningkatnya kasus penyakit ini di Indonesia.

Dirinya menyebutkan, Hepatitis A banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Penyakit ini, menurut dia sangat erat kaitannya dengan kualitas yang mendalam dari hygiene pribadi dan sanitasi lingkungan seperti, hygiene perorangan dan hygiene penjamah makanan yang rendah, lingkungan yang kumuh, kebersihan tempat-tempat umum (rumah makan, restoran) yang kurang serta perilaku masyarakat yang tidak mendukung untuk hidup sehat.

“Penyakit Hepatitis A merupakan penyakit endemis di beberapa negara berkembang. Penularannya dapat terjadi karena pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak, makanan yang tercemar, sanitasi yang buruk, dan rendah,” katanya

Sukamto menjelaskan, gejala yang ditimbulkan oleh seseorang yang terjangkit virus Hepatitis A bersifat akut, tidak memberikan ciri khas karena biasanya berupa demam, sakit kepala, mual dan muntah, bahkan dapat menyebabkan pembengkakan hati.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus Hepatitis A justru lebih sering menyerang balita, anak-anak, dan orang dewasa, terutama yang tinggal di area dengan tingkat sanitasi yang rendah.

Pencegehan Hepatitis A

Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, dan pengobatan yang baik berarti melaksanakan pencegahan yang baik pula. Kedua ungkapan ini berlaku juga untuk Hepatitis A, dimana kegiatan pencegahan lebih efisien dan tanpa risiko yang membahayakan.

Pencegahannya melalui kebersihan lingkungan, terutama terhadap makanan dan minuman, melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan dengan vaksinasi.

Sukamto menyebutkan, vaksinasi penting dilakukan untuk memberikan perlindungan diri dan mencegah penyebaran. Vaksinasi merupakan salah satu bentuk pencegahan penyakit yang efektif untuk menghindari terjangkitnya penyakit infeksi, mulai dari anak, orang dewasa hingga orangtua.

“Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Pengobatan yang baik artinya melaksanakan pencegahan yang baik juga sedini mungkin, sama halnya

untuk Hepatitis A, dimana kegiatan pencegahan lebih efisien dan tanpa risiko yang membahayakan.”

Selain mencegah masuknya virus Hepatitis A ke tubuh dengan memutus jalur penularan fekal oral dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit infeksi yang bisa kapan saja menyerang tubuh, vaksinasi penting dilakukan untuk memberikan perlindungan diri dan mencegah penyebaran.

“Vaksinasi Hepatitis A akan memberikan kekebalan spesifik terhadap virus Hepatitis A. Vaksin Hepatitis A dua dosis dengan jarak 6 sampai 12 bulan dapat memberikan perlindungan jangka panjang,” kata Sukamto

Lebih lanjut pria yang juga mewakili PB PAPDI dan Humas dan Kelembagaan ILUNI UI mengatakan, tidak seorang pun perlu berisiko terkena Hepatitis A, karena sudah ada pencegahan yang efektif melalui vaksinasi.

Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami hal ini. Kesimpulan tersebut didukung oleh data Riskesdas Kementerian Kesehatan 2018, yang menunjukkan prevelansi atas diagnosis terhadap beberapa penyakit kritis di Indonesia terus meningkat.

Spesialis Dokter Anak, RSUI, Dr. Nina Dwi Putri mengatakan, anak-anak sangat rentan terhadap penyakit infeksi seperti Hepatitis A. Terbukti dengan sebagian besar pasien KLB tersebut adalah siswa sekolah menengah pertama. Ia mengungkapkan, vaksinasi memicu kekebalan spesifik di dalam tubuh seorang anak, sehingga mampu melawan penyakitpenyakit yang berbahaya, mencegah sakit berat, kecacatan dan kematian serta mencegah penularan ke teman-teman disekitarnya.

“Jadi, vaksinasi selain bermanfaat untuk anak-anak, juga bermanfaat untuk mencegah penyebaran penyakit ke orang tua, adik, kakak dan anak-anak lain disekitarnya. Vaksin Hepatitis A sudah dapat diberikan pada anak sejak usia dua tahun,” katanya

Sementara itu, Direktur Pelayanan Primer RSUI Dr. dr. Astrid Sulistomo menambahkan, RSUI memiliki misi untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan, berbasis bukti, paripurna, holistik, terintegrasi, melalui pendekatan keluarga dan komunitas, dengan menggunakan teknologi unggulan terkini.

Ia juga mengatakan, vaksinasi merupakan salah satu intervensi kesehatan yang terbukti paling efektif dan merupakan investasi kesehatan jangka panjang. Oleh karena itu, sebagai bentuk komitmen terkait hal itu, RSUI membuka klinik vaksinasi yang terbuka untuk umum setiap hari Senin sampai dengan Jumat.

“Kami berharap ini bisa menjadi salah satu solusi dalam melindungi masyarakat dari risiko wabah Hepatitis A yang belum lama ini menyerang Kota Depok.” (rul/*)