1,7 Juta Anak Indonesia Terpaksa Bekerja Dalam Situasi Buruk

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, sebut jumlah anak yang bekerja dalam situasi buruk terus meningkat. (Depoktoday.hops.id)
Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, sebut jumlah anak yang bekerja dalam situasi buruk terus meningkat. (Depoktoday.hops.id)

DEPOK- Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyebut, jumlah pekerja anak di bawah umur mengalami peningkatan di Indonesia. Ironisnya lagi, sekira 1,7 juta di antaranya terpaksa bekerja dalam situasi buruk.

“Meningkatnya jumlah anak yang terpaksa bekerja di Indonesia sudah menjadi catatan kami sejak 10 tahun yang lalu,” kata Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, pada Sabtu 12 Juni 2021.

Menurut catatan Komnas PA, fakta dan data yang terkonfirmasi menunjukkan sekira 5,1 juta anak Indonesia bekerja dalam berbagai bentuk pekerjaan.

“Dari angka itu, 1,7 juta anak terpaksa bekerja dalam situasi buruk, seperti bekerja di industri manufaktur untuk kebutuhan konsumen lokal dan orientasi ekspor dan bekerja lebih dari tiga jam.”

Tak hanya itu, mereka juga terpaksa bekerja di jalanan dengan situasi non permanen atau tinggal di jalanan, kemudin bekerja di restaurant, hotel, kafe hingga tempat hiburan malam.

“Tak sedikit dari mereka yang terpaksa bekerja hingga larut malam, menjadi pekerja seksual komersil atau dijadikan budak seks,” ujarnya.

Baca Juga: Jumlah SMP Negeri Timpang, Anak Depok Berisiko Putus Sekolah

Arist menegaskan, anak-anak dalam situasi buruk itu mengharapkan kehadiran pemerintah dan negara untuk melakukan intervensi lintas kementerian.

“Dan sudah saatnya pula negara mempunyai sistem pendataan dan intervensi kritis terhadap permasalahan mendasar anak dan keluarganya.”

Menurut dia, aksi menentang pekerja anak di Indonesia harus dillakukan dengan pendekatan kemanusian dan keadilan.

“Sentulah keberadaan anak dengan pendekatan korban dan pendekatan kemiskinan melalui penyediaan fasilitas sekolah gratis,” katanya.

Baca Juga: Ancaman Pidana Intai Pengamen Ondel-ondel yang Libatkan Bocah

Arist juga mendesak agar anak Indonesia yang terpaksa bekerja dapat dikembalikan ke dalam lingkungan sekolah. Karena pendidikan adalah hak yang sangat fundamental dan wajib difasilitasi oleh pemerintah.

Demikian juga hak anak untuk bermain dan mendapat perlindungan dari segala eksploitasi.

“Kembalikan hak anak, biarkan mereka menikmati pendidikan yang merdeka,” ujarnya. (rul/*)