1.646 Warga Depok Batal Naik Haji, Sebagian Minta Uang Kembali

Habib Idrus (DepokToday, Rul)

PANCORAN MAS– Sebanyak 1.646 calon jemaah haji asal Kota Depok, Jawa Barat dipastikan gagal berangkat ke tanah suci Mekah usai ditetapkannya keputusan Kementerian Agama terkait penundaan ibadah haji pada tahun ini. Kebijakan itu dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Total ada 1.646 calon jamaah haji yang tertunda keberangkatannya tahun ini,” kata Kasi Penyuluhan Haji dan Umrah Kementerian Agama Kota Depok, Hasan Basri ketika dikonfirmasi pada Kamis 4 Juni 2020

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, 1.646 calon jamaah haji ini sudah melunasi seluruh pembayaran. Tadinya, ribuan calon haji itu dijadwalkan akan berangkat pada 25 Juni 2020 mendatang.

“Rencananya tanggal 25 Juni ini untuk keberangkatannya, namun ditunda ya hingga tahun depan,” jelasnya

Hasan mengungkapkan, ada 43 calon jamaah haji lainnya asal Depok yang gagal berangkat, karena belum melunasi pembayaran.

“Jadi untuk yang tertunda ada 1.646 orang, dan yang gagal karena belum melunasi ada 43 orang, dengan total ONH (ongkos naik haji) sekira Rp 36,2 juta.”

Menanggapi hal tersebut, sejumlah calon jemaah haji asal Depok memilih untuk menarik kembali uang pelunasan atau refund. Permintaan ini diungkapkan oleh sebagian besar calon jemaah haji dari travel PT. Safarah Ziarah Haramain, Depok.

“Sebagian minta dikembalikan, tapi harus juga ada mekanisme yang jelas. Artinya dari pihak yayasan hanya membantu pengajuan ke Depertemen Agama wilayah,” kata Direktur Utama PT. Safarah Ziarah Haramain, Habib Idrus Al Ghadri saat ditemui di kediamannya di kawasan Pancoran Mas, Depok.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, sejumlah jamaah calon haji yang terdata di biro perjalanannya telah memaklumi keputusan Menteri Agama.

“Ya kalau kita konfirmasi ke semua jamaah, ya jamaah memaklumi ya karena kondisi yang memang kayaknya tidak memungkinkan jamaah untuk melaksanakan ibadah haji dari segi kesehatan.”

Namun disisi lain, kata Idrus, para calon jemaah berharap ada kejelasan dalam hal lain.

“Kan yang boleh diambil ini Rp11 juta-an atau uang sisa pelunasan. Tapi sementara itu juga, jamaah kan sebelum pelunasan harus periksa kesehatan. Mereka mengeluarkan biaya untuk cek KG, rontgen dan itu biayanya enggak sedikit. Yang jadi pertanyaan mau enggak pemerintah ganti itu. Jamaah menanyakan itu. Tapi kata Kemenag lihat situasi kedepannya,” kata Idrus

Keluhan tersebut bukan tanpa alasan, sebab hasil rontgen menurutnya hanya berlaku selama 6 bulan. “Kalau berangkat ditunda harus periksa ulang. Artinya, kalau sampai 2021 ya mereka harus periksa ulang dan itu butuh biaya lagi, ini mudah-mudahan pemerintah mengerti,” tuturnya

Kemudian, sejumlah calon jemaah juga mempertanyakan batas pemberlakuan paspor. “Paspor itu kan masa berlakunya 6 bulan sebelum masa habis kan udah mesti diperpanjang. Jadi kita berharap paspor jamaah dikembalikan, karena kita khawatir kalau tidak dikembalikan tiba-tiba masa paspornya habis. Jadi dikembalikan semua, itu harapan jamaah,” katanya

Idrus tak menampik kondisi yang terjadi saat ini pun telah berdampak buruk bagi usaha yang digelutinya selama puluhan tahun tersebut.

“Ya mungkin kalau bicara rugi, semua rugi. Saya jujur, turun drastis. Kita kemarin umrah Maret batal. Untungnya jamaah enggak minta duit kembali. Kalau dikembalikan, bayangin 1.650 dolar dikalikan 42 orang. Jamaah ga membatalkan, kita menunggu aja. Kalau pemerintah buka, ya kita ikutin.”

Untuk keberangkatan tahun ini, kata Idrus, pihaknya telah menerima sekira 172 orang. (rul/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here